Aktor asal Amerika Timothee Chalamet. (Instagram @tchalamet))
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Aktor Hollywood Timothee Chalamet melihat masa depan industri film layar lebar dengan penuh optimisme, meski layanan streaming semakin mendominasi cara orang menikmati hiburan.
Dalam wawancara yang dikutip dari CinemaBlend, Senin (2/3/2026), Timothée mengaku dirinya berada di posisi realistis. Ia mendukung eksistensi film bioskop, namun tetap memahami perubahan pola konsumsi penonton saat ini.
“Saya tidak ingin bekerja di balet atau opera yang seperti, ‘Hei, jaga benda ini tetap hidup, meskipun tidak ada yang peduli lagi’,” ujar Timothée.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ia tidak ingin sekadar mempertahankan tradisi tanpa relevansi. Menurutnya, jika memang film layar lebar masih dicintai, maka publik akan datang dengan sendirinya.
“Jika orang ingin melihatnya, mereka akan melihatnya dan berusaha keras serta bangga tentang hal itu,” tambahnya.
Generasi Z Dorong Kebangkitan Bioskop
Menariknya, sebuah laporan tentang Generasi Z menyebut kelompok usia ini justru lebih terdorong untuk menonton film di bioskop dibanding generasi milenial. Hal ini menjadi sinyal positif bagi masa depan industri layar lebar.
Keberhasilan film Marty Supreme semakin menguatkan pandangan tersebut. Film yang dibintangi Chalamet dan diproduksi oleh A24 ini mencetak pembukaan domestik sebesar 28,3 juta dolar AS.
Tak hanya itu, film tersebut berhasil meraup pendapatan global hingga 157 juta dolar AS, menjadikannya salah satu film terlaris studio tersebut. Capaian ini membuktikan bahwa penonton masih bersedia meluangkan waktu dan uang untuk pengalaman sinematik di layar lebar.
Chalamet juga menyinggung fenomena Barbenheimer, momen ketika dua film besar tayang bersamaan dan menciptakan gelombang antusiasme luar biasa pada 2023.
Fenomena tersebut bahkan mendorong jaringan bioskop seperti AMC Stubs untuk menambah jadwal penayangan siang hari karena tingginya permintaan tiket. Total pendapatan dari fenomena itu mencapai ratusan juta dolar AS secara global.
Menurut Chalamet, contoh tersebut menunjukkan satu hal penting: film yang benar-benar menarik dan relevan tidak perlu dipaksakan untuk laris. Antusiasme penonton akan tumbuh secara alami.
Di tengah gempuran platform digital, Chalamet tetap percaya kualitas adalah kunci utama. Jika sebuah film mampu menjadi perbincangan dan menciptakan pengalaman kolektif, publik akan dengan sukarela datang ke bioskop.
Optimisme ini menjadi angin segar bagi industri perfilman yang sempat diragukan keberlanjutannya akibat perubahan perilaku konsumsi hiburan.