Sabtu, 15 Agustus 2026

Tak Hanya Pasar, Indonesia Harus Jadi Kekuatan Musik Dunia


 Tak Hanya Pasar, Indonesia Harus Jadi Kekuatan Musik Dunia Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo (Giox)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Menjelang peringatan Hari Musik Nasional pada 9 Maret, perhatian terhadap masa depan industri musik Indonesia kembali menguat. Tahun 2026 menjadi peringatan ke-13 sejak Hari Musik Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejak awal, peringatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia sekaligus mendorong kepercayaan diri para pelaku musik tanah air agar mampu bersaing di tingkat regional maupun global.

Di tengah momentum tersebut, sebuah inisiatif kolektif hadir dari para pelaku industri musik lintas generasi. Mereka tergabung dalam komunitas Cita Svara Indonesia (CSI), sebuah wadah kolaborasi yang ingin memperkuat posisi musik Indonesia di negeri sendiri sekaligus di panggung dunia.

Beda Masa, Satu Rasa

Cita Svara Indonesia mengusung tagline “Beda Masa Satu Rasa”. Sebuah pesan sederhana namun kuat: zaman boleh berubah, teknologi boleh berganti, tetapi kecintaan terhadap musik Indonesia tetap sama.

Komunitas ini lahir dari kesadaran para pelaku industri musik yang telah berkarya sejak era 1980-an hingga 1990-an. Dengan pengalaman panjang di dunia musik, mereka melihat perlunya sebuah ruang kolaborasi yang mampu menyatukan energi para musisi, pelaku industri, hingga ekosistem kreatif.

Nama-nama seperti Connie Constantia, Harry Koko Santoso, Peter Frits Momor, Oleg Sanchabakhtiar, Jimmy Turangan, hingga sejumlah tokoh lainnya menjadi penggerak utama organisasi ini.

Bagi mereka, Cita Svara Indonesia bukan sekadar komunitas nostalgia para musisi senior. Organisasi ini diproyeksikan sebagai platform strategis untuk mendorong sinergi lintas generasi dalam industri musik nasional.

Menurut Connie Constantia, salah satu pendiri CSI, musik memiliki peran penting dalam membangun identitas bangsa.

“Beda masa boleh berganti, tetapi rasa tetap sama. Semangat itulah yang ingin kami gaungkan melalui Cita Svara Indonesia,” ujarnya dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Ia menegaskan bahwa musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga instrumen budaya yang dapat memajukan bangsa.

Tantangan Arus Budaya Global

Kemajuan teknologi digital membuat musik dari berbagai negara semakin mudah diakses oleh masyarakat Indonesia. Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang kolaborasi lintas budaya. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa karakter musik lokal dapat perlahan tergerus oleh dominasi konten global.

Bagi CSI, Indonesia memiliki kekayaan musikal yang luar biasa. Ragam genre, bahasa, dan tradisi musik dari berbagai daerah merupakan kekuatan besar yang sebenarnya dapat menjadi modal untuk menembus pasar internasional.

Namun tanpa strategi yang tepat, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk musik asing, bukan pemain utama dalam industri global.

Padahal, menurut para penggagas CSI, musisi Indonesia memiliki kemampuan yang tidak kalah untuk bersaing di tingkat dunia.

Pentingnya Sinergi Ekosistem Musik

Cita Svara Indonesia menekankan bahwa kemajuan musik nasional tidak bisa hanya bergantung pada talenta individu.

Diperlukan ekosistem yang sehat dan kolaboratif, yang melibatkan berbagai pihak seperti:

  • Musisi dan penyanyi
  • Pelaku industri musik
  • Pemerintah
  • Media massa
  • Platform digital

Sinergi tersebut diyakini dapat memperkuat industri musik nasional sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi musisi Indonesia untuk menembus pasar global.

Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, yang hadir dalam kesempatan tersebut menyambut baik inisiatif kolektif yang dibangun oleh CSI.

Menurutnya, Hari Musik Nasional seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat posisi musik Indonesia di dunia.

Ia juga menyoroti peran media sosial yang kini membuka peluang lebih luas bagi musisi dari berbagai daerah untuk dikenal tanpa harus bergantung pada label besar.

“Jika film bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, saya yakin musik Indonesia juga bisa menjadi raja dan ratu di negeri sendiri,” ujarnya.

Musik sebagai Kekuatan Budaya dan Ekonomi

Cita Svara Indonesia memandang musik bukan hanya sebagai ekspresi seni, tetapi juga aset budaya sekaligus kekuatan ekonomi kreatif.

Dengan pengelolaan yang tepat, musik dapat menjadi diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas Indonesia ke dunia internasional.

Karena itu, CSI mendorong agar musik Indonesia tidak hanya berkembang sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai bagian penting dari pembangunan industri kreatif nasional.

Harapannya, musik Indonesia dapat berbicara lebih lantang di panggung dunia—tidak sekadar menjadi penonton di pasar global, tetapi menjadi pemain utama yang membawa warna khas Nusantara.

Momentum Hari Musik Nasional 2026 pun diharapkan menjadi titik awal penguatan kolaborasi di antara seluruh pelaku industri musik.

Dengan kekuatan kolektif, musik Indonesia tidak hanya mampu bertahan di tengah arus globalisasi, tetapi juga tampil lebih percaya diri sebagai identitas budaya yang membanggakan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Hiburan Terbaru