Dokter India Waspadai Tren Suntikan Penurun Berat Badan: Bukan Jalan Pintas Lawan Obesitas


 Dokter India Waspadai Tren Suntikan Penurun Berat Badan: Bukan Jalan Pintas Lawan Obesitas Ilustrasi - Maraknya suntikan penurun berat badan di India menuai peringatan dokter. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Sejumlah dokter terkemuka di India menyuarakan kekhawatiran serius atas maraknya penggunaan suntikan penurun berat badan yang kini semakin mudah diakses publik. Di tengah lonjakan kasus diabetes dan obesitas, para ahli menilai tren ini berisiko menimbulkan masalah kesehatan baru jika digunakan secara luas tanpa pengawasan ketat.

Dalam beberapa bulan terakhir, permintaan terhadap obat penekan nafsu makan berbasis hormon GLP-1 melonjak tajam. Produk seperti Mounjaro, Wegovy, dan Ozempic menjadi perbincangan luas, tidak hanya di kalangan pasien diabetes, tetapi juga masyarakat umum yang ingin menurunkan berat badan secara cepat.

Sejak mendapat izin edar di India awal tahun ini, Mounjaro bahkan mencatatkan penjualan luar biasa dan disebut-sebut melampaui sejumlah obat esensial lain. Lonjakan tersebut mendorong produsen global seperti Eli Lilly untuk memperluas pengembangan produk serupa, termasuk versi pil yang direncanakan meluncur tahun depan.

Tak mau tertinggal, Novo Nordisk juga mulai agresif memasarkan Ozempic di India dengan harga lebih kompetitif. Meski demikian, biaya pengobatan bulanan masih tergolong mahal bagi sebagian besar rumah tangga, sehingga memunculkan kekhawatiran kesenjangan akses dan praktik penggunaan yang tidak tepat.

Situasi ini diperkirakan akan berubah pada 2026, ketika paten sejumlah obat semaglutide berakhir. Perusahaan farmasi lokal diprediksi akan memproduksi versi generik dengan harga lebih terjangkau. Para analis bahkan memperkirakan nilai pasar obat penurun berat badan di India bisa menembus ratusan miliar dolar per tahun menjelang akhir dekade ini.

Di sisi lain, tantangan kesehatan yang dihadapi India memang tidak kecil. Data global menunjukkan negara ini memiliki lebih dari 200 juta orang dewasa dengan diabetes—jumlah terbesar di dunia. Sementara itu, riset The Lancet memperkirakan jumlah penduduk dewasa yang kelebihan berat badan atau obesitas di India dapat melonjak drastis hingga mendekati sepertiga populasi pada 2050.

Namun, para dokter mengingatkan bahwa solusi instan berpotensi membawa dampak jangka panjang. Ahli bedah bariatrik terkemuka, Mohit Bhandari, menilai penggunaan obat penurun berat badan sudah mulai melenceng dari tujuan medis. Ia menyoroti praktik peresepan oleh tenaga non-spesialis, hingga ketersediaan suntikan di pusat kebugaran dan klinik kecantikan.

Menurutnya, obat GLP-1 memang penting, tetapi harus berada di bawah kontrol ketat pemerintah dan dokter spesialis. Efek samping seperti hilangnya massa otot, gangguan pankreas, batu empedu, hingga risiko kebutaan pada pasien tertentu tidak boleh dianggap remeh.

Kekhawatiran serupa disampaikan Anoop Misra, ahli endokrinologi di Delhi. Ia mengakui permintaan obat-obatan ini meningkat tajam, tetapi menegaskan bahwa suntikan hanyalah bagian kecil dari solusi. Pola makan tidak sehat, gaya hidup kurang aktif, serta faktor lingkungan tetap menjadi akar persoalan obesitas dan diabetes di India.

“Obat dapat membantu, tetapi tidak bisa menggantikan perubahan gaya hidup,” ujarnya sebagaimana dilansir The Guardian. Menurut Misra, edukasi nutrisi, olahraga teratur, dan perubahan kebiasaan makan keluarga tetap menjadi fondasi utama penanganan krisis kesehatan ini.

Cerita pasien seperti Vidhi Dua, penderita diabetes yang mulai menggunakan suntikan penurun berat badan demi mengurangi ketergantungan insulin, juga menggambarkan sisi lain dari tren ini. Meski mengalami penurunan berat badan, ia harus berhadapan dengan efek samping berat pada tubuhnya. Ia pun khawatir ketika obat-obatan tersebut berubah menjadi tren kosmetik semata.

Para ahli sepakat, tanpa regulasi yang jelas dan kesadaran publik yang memadai, euforia suntikan penurun berat badan justru berpotensi menambah beban sistem kesehatan. Di negara dengan populasi besar seperti India, disiplin medis menjadi kunci agar inovasi kesehatan benar-benar membawa manfaat, bukan masalah baru.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru