Kremasi Wanita Misterius di Malawi Diduga Tertua di Dunia, Arkeolog Bertanya: Mengapa Dia?


 Kremasi Wanita Misterius di Malawi Diduga Tertua di Dunia, Arkeolog Bertanya: Mengapa Dia? Peneliti menemukan jenazah (Grace Veatch/The Independent.co.uk )

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Sebuah penemuan arkeologi di Afrika kembali mengguncang pemahaman tentang ritual kematian manusia purba. Di sebuah situs bernama Hora 1, para peneliti menemukan bukti kremasi manusia dewasa yang disengaja dan tertua yang pernah diketahui hingga saat ini. Menariknya, praktik pemakaman ini dilakukan sekitar 9.500 tahun lalu, jauh sebelum kremasi menjadi hal lazim dalam sejarah manusia.

Temuan ini terjadi di kawasan berbukit granit di Malawi, tepatnya di situs arkeologi Hora 1 yang sudah lama dikenal para ilmuwan. Namun, baru kali inilah para arkeolog menemukan lapisan abu prasejarah berukuran hampir setara kasur queen size, yang ternyata merupakan sisa-sisa tubuh seorang perempuan dewasa bertubuh kecil, dengan tinggi kurang dari 150 sentimeter.

Abu yang Terawetkan Waktu

Abu hasil kremasi tersebut ditemukan dalam kondisi yang sangat tidak biasa. Menurut arkeolog Jessica Thompson dari Universitas Yale, lapisan abu itu mengeras seperti semen akibat kelembapan tanah, bukan karena hujan. Kondisi ini justru menjadi “pelindung alami” yang menjaga tulang-tulang dari gangguan lingkungan, termasuk serangan rayap dan hewan kecil.

Lapisan keras itu membuat proses penggalian menjadi sulit, tetapi sekaligus memastikan sisa-sisa tubuh perempuan tersebut terawat luar biasa selama ribuan tahun. Para peneliti menyebut proses pelestarian ini sebagai keberuntungan arkeologis yang langka. 

Direncanakan dengan Sangat Matang

Berbeda dari sisa-sisa manusia terbakar yang pernah ditemukan sebelumnya, kremasi di Hora 1 menunjukkan tanda-tanda perencanaan yang sangat rinci. Para peneliti menemukan tumpukan kayu bakar yang sengaja disusun, dengan bahan bakar mencapai sedikitnya 30 kilogram kayu mati dan rumput. Api yang dihasilkan diperkirakan mencapai suhu lebih dari 500 derajat Celsius.

Hal ini menjadikan kremasi di Malawi tersebut jauh lebih tua dibandingkan kremasi tertua sebelumnya yang telah dikonfirmasi, yang berasal dari sekitar 3.300 tahun lalu.

Mengapa Hanya Dia?

Pertanyaan terbesar yang masih belum terjawab hingga kini adalah: mengapa hanya perempuan ini yang dikremasi? Dari periode tersebut, praktik pembakaran jenazah hampir tidak pernah ditemukan, terutama di kalangan masyarakat pemburu-pengumpul.

Antropolog Jessica Cerezo-Román dari Universitas Oklahoma menjelaskan bahwa tubuh perempuan ini menunjukkan tanda-tanda manipulasi sebelum proses pembusukan alami terjadi. Ini mengindikasikan bahwa kremasi dilakukan dengan penuh perhatian, kemungkinan beberapa hari setelah kematian.

“Siapa seseorang semasa hidupnya sering kali memengaruhi bagaimana ia diperlakukan setelah meninggal,” jelasnya. Namun hingga kini, belum diketahui apakah perempuan ini memiliki status khusus, peran simbolik, atau makna spiritual tertentu bagi komunitasnya yang dikutip dan diolah dari laporan The Independent.co.uk.

Ritual Komunal yang Kompleks

Penelitian ini memperkuat dugaan bahwa masyarakat pemburu-pengumpul Afrika kuno telah memiliki sistem ritual dan kerja sama komunal yang jauh lebih kompleks daripada yang selama ini diasumsikan. Praktik pemakaman rumit seperti ini sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan masyarakat agraris yang memiliki teknologi dan struktur sosial lebih maju.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances, para peneliti menyebut bahwa ritual ini berkaitan erat dengan ingatan kolektif, penghormatan leluhur, dan pembentukan memori sosial di dalam komunitas.

Menariknya, masyarakat tersebut diketahui kembali mendatangi lokasi kremasi ini di kemudian hari dan membuat api unggun besar lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa kremasi perempuan tersebut terus dikenang dan menjadi bagian penting dari tradisi komunitas mereka.

Menantang Asumsi Lama Arkeologi

Penemuan ini memaksa para arkeolog untuk meninjau ulang pandangan lama tentang kehidupan sosial manusia purba. Jika sebelumnya masyarakat pemburu-pengumpul dianggap memiliki ritual sederhana, temuan di Hora 1 justru menunjukkan adanya kerja sama besar, perencanaan matang, dan makna simbolik yang mendalam dalam menghadapi kematian.

“Pasti ada sesuatu yang sangat spesifik tentang dirinya sehingga ia mendapatkan perlakuan yang berbeda,” kata Thompson. Namun, misteri itu untuk sementara masih menjadi teka-teki yang tersimpan di bawah lapisan abu prasejarah Malawi.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru