Loading
Suhu Tembus 45 Derajat Celcius, Australia Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Australia tengah bersiap menghadapi ancaman kebakaran hutan ekstrem seiring lonjakan suhu yang diperkirakan mencapai hingga 45 derajat Celsius.
Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa gelombang panas kali ini berpotensi menjadi yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir, bahkan disebut sebagai yang paling signifikan sejak musim panas hitam 2019–2020.
Biro Meteorologi Australia menyatakan bahwa hamparan udara panas dan kering dalam skala luas sedang bergerak dari Australia Barat menuju Australia Selatan, New South Wales, dan Victoria. Pergerakan massa udara ini secara signifikan meningkatkan risiko kebakaran hutan di sejumlah wilayah.
Di beberapa daerah, dilansir The Independent, suhu siang hari diperkirakan melampaui 45 derajat Celsius dengan penurunan suhu yang sangat minim pada malam hari. Kondisi tersebut dinilai berbahaya bagi masyarakat sekaligus menambah tekanan terhadap layanan darurat.
Para peramal cuaca menyebut pertengahan pekan sebagai periode paling kritis. Beberapa negara bagian diperkirakan akan mengalami hari-hari panas ekstrem secara berturut-turut, yang memperbesar potensi kebakaran hutan skala besar.
Dean Narramore, peramal cuaca, mengatakan bahwa kekhawatiran utama berada pada periode tiga hari dari Rabu hingga Jumat. Ia menyebut sebagian besar wilayah New South Wales dan Victoria bagian utara berpotensi mengalami gelombang panas ekstrem, mencakup area luas antara Melbourne dan Sydney hingga ke wilayah pedalaman.
Menurut Narramore, gelombang panas ini menjadi yang paling signifikan bagi Australia tenggara dalam hal suhu di kisaran pertengahan 40 derajat Celsius yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut sejak musim panas 2019–2020. Wilayah pesisir yang padat penduduk juga diperkirakan tidak luput dari dampaknya, termasuk kota-kota besar seperti Adelaide dan Melbourne.
Baca juga:
Suhu Global Turun di 2025 karena La Niña, Tapi Ilmuwan Wanti-wanti Rekor Panas Baru Segera DatangTekanan juga dirasakan pada sektor kelistrikan. Matthew Sweeting dari perusahaan energi Ausgrid memperingatkan adanya peningkatan risiko pemadaman listrik tidak terencana akibat melonjaknya permintaan listrik selama gelombang panas berkepanjangan, terutama dari penggunaan pendingin udara.
Layanan darurat mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi kondisi ekstrem dengan meninjau kembali rencana penanggulangan kebakaran hutan dan membatasi aktivitas di luar ruangan. Peningkatan suhu ekstrem juga membuat jaringan listrik berada di bawah tekanan berat.
Gelombang panas ini datang setelah Australia mengalami tahun yang sangat hangat. Ahli klimatologi Nadine D’Argent menyebut bahwa dalam beberapa periode sepanjang tahun, sebagian besar wilayah Australia telah mengalami kondisi gelombang panas yang bahkan mencapai tingkat keparahan ekstrem.
Sebuah laporan terbaru memperkirakan sekitar 6,9 juta warga Australia kini tinggal di zona rawan kebakaran di wilayah pinggiran kota, meningkat lebih dari 65 persen dibandingkan tahun 2000. Laporan dari Emergency Leaders for Climate Action dan Climate Council memperingatkan bahwa kawasan pinggiran kota besar menghadapi risiko kebakaran hutan yang semakin menyerupai peristiwa mematikan seperti kebakaran besar di Los Angeles pada 2025.
Laporan tersebut menegaskan bahwa polusi iklim akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas mempercepat terbentuknya kondisi kebakaran yang berbahaya. Dampaknya, kebakaran perkotaan berskala besar dinilai semakin mungkin terjadi di sejumlah kota besar Australia, termasuk Sydney, Melbourne, Canberra, Adelaide, Perth, dan Hobart.