Loading
Photo file: Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan pidato di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Selasa (29/7/2025). ANTARA FOTO/Pandu BN/hma/YU
KUALA LUMPUR, ARAHKITA.COM — Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyampaikan desakan tegas kepada Amerika Serikat agar segera membebaskan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta istrinya. Keduanya dilaporkan ditangkap dalam sebuah operasi militer pada Sabtu (3/1/2026).
Dalam pernyataan resminya di Kuala Lumpur, Ahad, Anwar menilai langkah tersebut sebagai tindakan serius yang mencederai prinsip-prinsip dasar hukum internasional. Ia menyebut operasi militer terhadap pemimpin negara berdaulat sebagai tindakan yang tidak lazim dan berpotensi memicu ketegangan global.
“Saya mengikuti situasi di Venezuela dengan keprihatinan mendalam. Penangkapan Presiden Maduro dan istrinya melalui operasi militer berskala besar merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional,” ujar Anwar. Ia menegaskan bahwa penggunaan kekuatan semacam itu tidak dapat dibenarkan dan harus segera dihentikan.
Menurut Anwar, apa pun dalih yang digunakan, upaya menggulingkan kepala pemerintahan yang sah melalui intervensi eksternal hanya akan menciptakan preseden berbahaya. Langkah tersebut, katanya, mengikis batas-batas penggunaan kekuasaan antarnegara dan melemahkan tatanan hukum internasional yang selama ini menjaga stabilitas global.
Ia menekankan bahwa masa depan politik Venezuela sepenuhnya menjadi hak rakyatnya. Pengalaman sejarah menunjukkan, perubahan kepemimpinan yang dipaksakan dari luar justru kerap memperparah krisis, terutama di negara yang telah lama menghadapi tekanan ekonomi dan sosial.
“Malaysia memegang teguh prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara dan supremasi hukum internasional. Jalan terbaik untuk melindungi warga sipil adalah melalui dialog, keterlibatan konstruktif, dan de-eskalasi,” kata Anwar dikutip Antara.
Ia berharap komunitas internasional mendorong solusi damai agar rakyat Venezuela dapat memperjuangkan aspirasinya tanpa penderitaan tambahan.