Loading
Infografis- Perang Iran hari ketujuh, harga minyak dunia tembus $80 per barel. (Ilustrasi: ChatGPT AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global. Memasuki hari ketujuh konflik Iran, harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus angka $80 per barel, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Lonjakan harga minyak ini terjadi di tengah situasi perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran bahkan menegaskan tidak sedang mencari jalan damai dalam waktu dekat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya “tidak meminta gencatan senjata” dari Amerika Serikat maupun Israel.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemerintahannya akan mengalihkan fokus geopolitik ke Kuba setelah operasi militer di Iran berakhir.
Menurut laporan yang dikutip dari CNBC’s Daily Open, eskalasi konflik ini telah memicu tekanan besar pada pasar energi global karena potensi gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Dubai Ikut Terguncang
Dampak konflik juga terasa jauh dari medan tempur. Dubai—yang selama ini dikenal sebagai pusat kekayaan global dan surga pajak—ikut mengalami guncangan.
Dalam sepekan terakhir, Uni Emirat Arab dilaporkan mengalami beberapa serangan proyektil yang mengenai kawasan wisata dan sipil. Salah satu yang terdampak adalah Hotel Fairmont The Palm, hotel bintang lima yang menjadi ikon pariwisata di kawasan Palm Jumeirah.
Bandara Dubai juga dilaporkan menjadi sasaran serangan, memicu kepanikan di kalangan investor dan warga asing.
Akibatnya, sejumlah orang kaya dunia yang selama ini menjadikan Dubai sebagai tempat tinggal dan investasi mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan kota tersebut.
Persaingan AI: Anthropic vs OpenAI Memanas
Di saat dunia fokus pada konflik geopolitik, pertarungan lain juga berlangsung di sektor teknologi.Persaingan antara perusahaan kecerdasan buatan Anthropic dan OpenAI semakin memanas. CEO OpenAI Sam Altman secara terbuka mengkritik pesaingnya itu.
Altman menilai akan menjadi “buruk bagi masyarakat” jika perusahaan teknologi mulai meninggalkan komitmen terhadap proses demokrasi hanya karena tekanan politik.
Komentar tersebut muncul setelah Departemen Pertahanan AS terlibat perselisihan dengan Anthropic mengenai penggunaan model AI perusahaan itu dalam berbagai proyek.
Tarif Trump Digugat Lagi
Ketidakpastian ekonomi global juga semakin meningkat setelah kebijakan tarif perdagangan Presiden Donald Trump kembali menghadapi gugatan hukum.
Jaksa Agung New York Letitia James, bersama jaksa dari 23 negara bagian lainnya, kembali menggugat kebijakan tarif global tersebut.
Gugatan ini muncul hanya beberapa hari setelah Mahkamah Agung AS membatalkan upaya hukum sebelumnya untuk menghentikan kebijakan tersebut.
Jika sengketa hukum ini berlarut-larut, para analis memperingatkan bahwa pasar global bisa menghadapi ketidakpastian tambahan.
Drone Shahed, Senjata Murah yang Mengubah Perang
Di medan perang, Iran mengandalkan salah satu teknologi militernya yang paling terkenal: drone Shahed-136.Drone kamikaze ini sering dijuluki sebagai “rudal jelajah untuk negara berbiaya rendah” karena harganya relatif murah dibandingkan sistem senjata modern lainnya.
Iran telah mengerahkan ribuan unit drone Shahed dalam berbagai operasi militer. Teknologi ini juga digunakan oleh Rusia dalam konflik panjangnya dengan Ukraina.
Meski banyak drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan lawan, sebagian tetap mampu mencapai targetnya.
Para analis militer menilai teknologi drone murah seperti Shahed telah mengubah wajah peperangan modern karena memungkinkan negara dengan sumber daya terbatas tetap memberikan tekanan besar kepada lawan.