China Diduga Mulai Dukung Iran di Tengah Konflik dengan AS–Israel


 China Diduga Mulai Dukung Iran di Tengah Konflik dengan AS–Israel Arsip foto - Warga berkumpul untuk upacara pemakaman massal bagi siswa dan anggota staf yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel terhadap sebuah sekolah di Minab, provinsi Hormozgan, Iran, Selasa (3/3/2026). ANTARA/Xinhua/HO-Mehr News Agency/aa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin kompleks. Laporan terbaru menyebutkan bahwa China kemungkinan mulai memberikan dukungan kepada Iran di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Media CNN pada Jumat (6/3/2026) melaporkan bahwa Beijing diduga membantu Teheran melalui dukungan finansial, penyediaan suku cadang pengganti, serta komponen yang berkaitan dengan sistem rudal.

Informasi ini berasal dari tiga sumber yang mengetahui perkembangan tersebut. Meski begitu, hingga kini China disebut masih berusaha menjaga jarak dan menghindari keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata yang sedang berlangsung.

Namun, sejumlah pejabat Amerika Serikat mulai memantau tanda-tanda bahwa sikap Beijing terhadap konflik ini kemungkinan sedang berubah.

Selama ini, China dikenal sebagai salah satu pembeli terbesar minyak mentah Iran. Hubungan ekonomi tersebut membuat Beijing memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa pemerintah China juga sempat meminta Iran memastikan jalur pelayaran komersial tetap aman, khususnya di kawasan strategis Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Seorang sumber intelijen menyebutkan bahwa China bersikap sangat berhati-hati dalam memberikan dukungan kepada Iran. Hal ini karena konflik yang semakin meluas berpotensi mengancam ketahanan energi negara tersebut.

Sementara itu, dinamika konflik juga melibatkan Rusia. CNN melaporkan bahwa Moskow diduga memberikan citra satelit dan berbagai informasi intelijen kepada Iran, termasuk data mengenai posisi serta pergerakan pasukan Amerika Serikat. Namun, Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut dilansir Antara.

Di lapangan, eskalasi konflik terus meningkat. Pekan lalu, enam tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas dan beberapa lainnya terluka setelah serangan drone Iran menghantam wilayah Kuwait.

Iran disebut telah meluncurkan ribuan drone serang dan ratusan rudal yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat, kedutaan besar, serta sejumlah sasaran sipil di kawasan tersebut.

Sebagai balasan, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran yang menghantam lebih dari 2.000 lokasi.

Ketegangan memuncak sejak operasi militer besar yang diluncurkan AS dan Israel pada Sabtu lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, serta sejumlah pejabat militer senior Iran.

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer AS, fasilitas diplomatik, serta beberapa kota di Israel. Hingga kini, serangan balasan dari kedua pihak masih terus berlanjut dan membuat situasi di Timur Tengah semakin tidak menentu.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru