Yahoo Hong Kong Hentikan Operasi Berita. (AI Generated)
HONG KONG, ARAHKITA.COM - Platform digital Yahoo di Hong Kong akan menghentikan layanan berita dan konten medianya, mengakhiri lebih dari dua dekade operasional lokal di sektor tersebut. Keputusan ini menjadi pukulan terbaru bagi industri media di kota yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan besar.
Perusahaan menyatakan bahwa penghentian ini merupakan keputusan bisnis yang berkaitan dengan penyesuaian strategi global, tidak berhubungan dengan iklim politik di Hong Kong. Proses penutupan akan dilakukan secara bertahap mulai April, dengan target penyelesaian penuh pada akhir tahun.
Sebagian besar staf ruang redaksi, termasuk tim editorial dan penjualan, diperkirakan akan diberhentikan pada akhir Maret. Saat ini, divisi tersebut memiliki sekitar 30 hingga 40 karyawan, dan hanya sebagian kecil yang akan dipertahankan untuk mengawal masa transisi.
Selama periode tersebut, dilansir The Independent, konten dari pihak ketiga masih akan mengisi platform, sementara tim terbatas akan menjaga halaman utama tetap aktif hingga layanan benar-benar dihentikan. Layanan yang terdampak mencakup Yahoo News dan kanal berita keuangan, sedangkan produk utama seperti email dan mesin pencari tetap beroperasi.
Yahoo mulai hadir di Hong Kong sejak 1999 dan semula mengandalkan agregasi konten dari berbagai sumber. Pada 2021, perusahaan mulai beralih ke produksi berita orisinal sebagai bagian dari penguatan bisnis medianya.
Meski demikian, jangkauan platform ini masih berada di bawah media lokal besar seperti TVB dan HK01, menurut data lembaga riset media global.
Penutupan ini menambah daftar panjang organisasi media yang menghentikan atau mengurangi operasinya di Hong Kong. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah media independen telah tutup, sementara jurnalis menghadapi tekanan hukum dan pembatasan ruang gerak.
Kasus Jimmy Lai, pendiri Apple Daily yang dijatuhi hukuman penjara panjang, menjadi salah satu simbol perubahan besar dalam lanskap media di kota tersebut. Penegakan undang-undang keamanan nasional oleh pemerintah pusat China juga disebut berkontribusi terhadap perubahan ini.
Data dari Reporters Without Borders menunjukkan peringkat kebebasan pers Hong Kong terus menurun, dari posisi 80 pada 2021 menjadi 140 dari 180 wilayah dalam laporan terbaru, dengan status yang kini dikategorikan sangat serius.
Meskipun Yahoo menegaskan bahwa keputusan ini murni bersifat komersial, langkah tersebut memperkuat tren berkurangnya ruang bagi media di Hong Kong dan memicu kekhawatiran baru terhadap masa depan kebebasan pers di kawasan tersebut.