Sebanyak 139.700 bayi lahir melalui layanan reproduksi berbantuan yang ditanggung oleh asuransi kesehatan China pada paruh pertama (H1) 2026. ANTARA/Xinhua.
BEIJING, ARAHKITA.COM – Kebijakan perluasan jaminan kesehatan di China mulai menunjukkan dampaknya terhadap akses masyarakat terhadap layanan reproduksi berbantuan. Sepanjang paruh pertama 2026, sebanyak 139.700 bayi tercatat lahir melalui layanan reproduksi berbantuan yang biaya pelayanannya ditanggung oleh asuransi kesehatan nasional China.
Data tersebut disampaikan National Healthcare Security Administration (NHSA) China pada Rabu (19/8/2026).
Dalam periode Januari hingga Juni 2026, sistem asuransi kesehatan China mencatat sekitar 1,7096 juta kunjungan untuk mendapatkan layanan reproduksi berbantuan. NHSA menyebut jumlah kunjungan tersebut terus mengalami peningkatan.
Angka itu menunjukkan bahwa layanan reproduksi berbantuan semakin banyak dimanfaatkan masyarakat, sekaligus mencerminkan meningkatnya dukungan pembiayaan dari sistem jaminan kesehatan pemerintah.
Hampir 300.000 Bayi Diperkirakan Lahir Sepanjang 2026
Jika tren pada paruh pertama tahun ini berlanjut, NHSA memperkirakan hampir 300.000 bayi dapat lahir melalui dukungan layanan reproduksi berbantuan yang ditanggung asuransi kesehatan sepanjang 2026.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya China memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan reproduksi, terutama bagi pasangan yang membutuhkan bantuan medis untuk memiliki anak.
Dengan adanya dukungan pembiayaan dari asuransi kesehatan, biaya yang sebelumnya harus ditanggung masyarakat secara mandiri dapat ditekan sehingga layanan menjadi lebih mudah dijangkau.
Pengeluaran Mencapai Rp7,86 Triliun
Selain jumlah kelahiran dan kunjungan pasien, NHSA juga mencatat besarnya aktivitas pembiayaan layanan tersebut dilansir Antara.
Selama enam bulan pertama 2026, total biaya langsung untuk layanan reproduksi berbantuan mencapai 2,97 miliar yuan.
Dengan asumsi 1 yuan setara Rp2.648, nilai tersebut mencapai sekitar Rp7,86 triliun.
Dari total biaya tersebut, dana asuransi kesehatan China menanggung lebih dari 1,9 miliar yuan, atau sekitar Rp5,03 triliun.
Besarnya dukungan pembiayaan ini menunjukkan bahwa layanan reproduksi berbantuan telah menjadi salah satu bagian penting dalam kebijakan kesehatan China.
Akses Layanan Reproduksi Semakin Diperluas
Peningkatan jumlah kunjungan dan kelahiran melalui prosedur reproduksi berbantuan juga memperlihatkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap teknologi reproduksi medis.
Bagi pasangan yang mengalami kesulitan memiliki anak secara alami, layanan seperti ini dapat menjadi salah satu pilihan medis yang tersedia sesuai kondisi dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Di sisi lain, perluasan cakupan pembiayaan juga memperlihatkan bagaimana kebijakan asuransi kesehatan dapat berperan dalam mengurangi hambatan biaya bagi masyarakat yang membutuhkan layanan reproduksi.
Data H1 2026 menjadi indikator awal bahwa dukungan asuransi kesehatan terhadap reproduksi berbantuan di China tidak hanya meningkatkan pemanfaatan layanan, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap jumlah kelahiran di negara tersebut.