Serangan Israel di Lebanon korban tewas Lebanon 2026 konflik Israel Lebanon. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Situasi di Lebanon semakin mengkhawatirkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, lebih dari 1.530 orang tewas sejak eskalasi konflik terbaru pecah pada 2 Maret 2026.
Data tersebut disampaikan oleh Imran Riza, Wakil Koordinator Khusus PBB sekaligus Koordinator Kemanusiaan untuk Lebanon, dalam konferensi pers dari markas PBB, Rabu (8/4/2026).
Yang paling menyayat hati, korban tidak hanya berasal dari kalangan dewasa. Sedikitnya 130 anak dilaporkan meninggal dunia, sementara 461 anak lainnya mengalami luka-luka. Angka ini menunjukkan betapa besar dampak konflik terhadap warga sipil, terutama kelompok rentan.
“Ini adalah tragedi sipil dalam skala besar,” ujar Riza.
Krisis Pengungsi Membengkak
Tak hanya korban jiwa, konflik ini juga memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Lebih dari 1,1 juta warga Lebanon—atau hampir 20 persen dari total populasi—terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Sebagian kecil, sekitar 138.000 orang, kini tinggal di 678 lokasi penampungan kolektif. Namun, mayoritas pengungsi lainnya—lebih dari 800.000 orang—bertahan di komunitas penampung atau permukiman informal.
Sayangnya, kondisi di lapangan jauh dari ideal. Banyak pengungsi kesulitan mendapatkan akses terhadap layanan dasar seperti air bersih, kesehatan, hingga kebutuhan pangan.
Di sisi lain, komunitas lokal yang menampung para pengungsi kini ikut merasakan tekanan berat akibat keterbatasan sumber daya.
Sistem Kesehatan di Ambang Krisis
Dampak konflik juga menghantam sektor kesehatan Lebanon. Lebih dari 106 insiden tercatat memengaruhi fasilitas kesehatan.Akibatnya, sedikitnya 57 tenaga kesehatan tewas dan 158 lainnya mengalami luka-luka. Tak hanya itu, 51 pusat layanan kesehatan dan enam rumah sakit terpaksa berhenti beroperasi, sementara banyak fasilitas lainnya mengalami kerusakan.
Kondisi ini membuat akses layanan kesehatan semakin terbatas, justru saat kebutuhan masyarakat meningkat drastis.
Seruan Mendesak dari PBB
Melihat situasi yang terus memburuk, PBB mendesak agar eskalasi konflik segera dihentikan.
Riza menekankan pentingnya semua pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional, termasuk melindungi warga sipil, fasilitas umum, serta tenaga kemanusiaan dan medis dikutip Antara.
Kebutuhan Dana Mendesak
Untuk merespons krisis ini, PBB sebelumnya mengajukan dana darurat sebesar 308,3 juta dolar AS guna membantu korban di Lebanon selatan.
Namun hingga kini, dana yang terkumpul baru sekitar sepertiga dari total kebutuhan.
“Kami sangat khawatir karena kebutuhan di lapangan jauh lebih besar,” ujar Riza.