Arsip Foto - Bendera Iran terlihat di markas besar PBB di New York, AS. (ANTARA/Xinhua/Li Muzi/am/aa.)
TEHERAN, ARAHKITA.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah serangan udara terbaru yang dilakukan militer AS. Situasi ini memicu gelombang desakan dari parlemen Iran agar pemerintah mengambil langkah yang lebih tegas terhadap Washington. Sebanyak 180 anggota parlemen meminta nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya ditandatangani kedua negara segera dibatalkan sebagai bentuk respons atas aksi militer tersebut.
Menurut laporan Kantor Berita Fars, ratusan anggota parlemen Iran mengeluarkan pernyataan bersama yang berisi sejumlah tuntutan kepada para pemimpin negara.
Selain meminta pembatalan MoU dengan Amerika Serikat, mereka juga mendesak pembentukan komisi khusus untuk menyelidiki proses negosiasi antara Teheran dan Washington.
Tak hanya itu, parlemen juga menyerukan percepatan pengesahan undang-undang terkait pengelolaan Selat Hormuz serta pemberian dukungan penuh kepada angkatan bersenjata Iran dalam menghadapi eskalasi konflik.
MoU Perdamaian Dipertanyakan
Baca juga:
Iran Umumkan Rencana Pengaturan Lalu Lintas Selat Hormuz, Sepakati Nota Kesepahaman dengan ASSebelumnya, pada 18 Juni 2026, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman yang mengatur penghentian konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi awal meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Namun harapan itu tak berlangsung lama. Pada 8 Juli 2026, militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran, sehingga memunculkan kembali ketidakpercayaan terhadap komitmen perdamaian yang telah disepakati dilansir Antara.
Serangan Berbalas di Kawasan Timur Tengah
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan udara tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Rangkaian aksi saling serang ini semakin memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.