Perundingan Iran–AS Buntu, Tersendat di Sejumlah Isu Krusial


 Perundingan Iran–AS Buntu, Tersendat di Sejumlah Isu Krusial Ilustrasi Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/pypri

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu. Meski sempat menemukan titik temu dalam beberapa hal, kedua negara masih berselisih pandangan pada sejumlah isu krusial yang membuat kesepakatan gagal tercapai.

Perundingan yang berlangsung di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026) itu awalnya membawa harapan baru, terutama setelah adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan sebelumnya oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Namun, harapan tersebut belum bisa diwujudkan menjadi kesepakatan konkret.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengungkapkan bahwa sebenarnya kedua pihak telah mencapai kesepahaman dalam beberapa aspek. Sayangnya, masih ada dua hingga tiga isu penting yang belum menemukan titik temu.

“Kami mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, namun masih berbeda pandangan pada beberapa hal penting. Pada akhirnya, perundingan ini belum menghasilkan kesepakatan,” ujarnya, seperti dikutip dari kantor berita Mehr dilansir Antara.

Baghaei tidak merinci secara spesifik isu apa saja yang menjadi ganjalan utama dalam negosiasi tersebut. Namun, perbedaan pandangan ini cukup signifikan hingga menghambat tercapainya kesepakatan.

Senada dengan itu, Wakil Presiden Amerika Serikat, J.D. Vance, yang memimpin delegasi AS dalam perundingan tersebut, juga mengonfirmasi bahwa negosiasi berjalan panjang namun tidak membuahkan hasil.

Pada Minggu (12/4/2026), Vance menyatakan bahwa delegasi Amerika Serikat akan kembali ke negaranya tanpa membawa kesepakatan apa pun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski ada kemajuan di beberapa aspek, hubungan Iran dan Amerika Serikat masih menghadapi tantangan besar. Perbedaan kepentingan dan sudut pandang strategis tampaknya masih menjadi penghalang utama dalam mencapai kesepakatan yang lebih luas.

Ke depan, publik internasional masih menaruh harapan agar kedua negara dapat melanjutkan dialog dan menemukan jalan tengah demi menjaga stabilitas kawasan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru