KTT ASEAN-Rusia 2026: Pakar Sebut Indonesia Punya Kharisma Jaga Stabilitas Kerja Sama Regional


 KTT ASEAN-Rusia 2026: Pakar Sebut Indonesia Punya Kharisma Jaga Stabilitas Kerja Sama Regional Logo ASEAN di Sekretariat ASEAN Jakarta. (ANTARA/Nabil Ihsan)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kehadiran Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Rusia 2026 dinilai memiliki arti strategis bagi masa depan hubungan kedua pihak. Di tengah situasi geopolitik dunia yang terus berubah, Indonesia dianggap memiliki pengaruh dan kharisma tersendiri dalam menjaga kesinambungan kerja sama antara ASEAN dan Rusia.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai posisi Indonesia sebagai negara pendiri ASEAN sekaligus negara dengan jumlah penduduk dan kekuatan ekonomi terbesar di kawasan menjadikannya aktor penting dalam kemitraan ASEAN-Rusia.

Menurutnya, kehadiran Indonesia dalam forum tersebut bukan sekadar simbol diplomatik, melainkan menjadi faktor yang dapat memperkuat kepercayaan dan stabilitas hubungan kedua pihak.

"Kehadiran Indonesia dalam konteks ASEAN-Rusia sangat penting. Sebagai pendiri ASEAN dengan ekonomi dan populasi terbesar di kawasan, Indonesia memiliki kharisma tersendiri sebagai penjamin kuatnya kerja sama ASEAN-Rusia," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Rezasyah menjelaskan bahwa partisipasi Indonesia dalam KTT tersebut juga membuka peluang lebih luas bagi pengembangan kerja sama bilateral maupun regional. Apalagi saat ini Indonesia dan Rusia telah memiliki dokumen Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership) yang menjadi landasan hubungan kedua negara.

Melalui forum ASEAN-Rusia, berbagai capaian dan agenda strategis kedua negara dapat dikomunikasikan secara lebih luas kepada negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Ia menambahkan, kerja sama tersebut semakin relevan ketika dikaitkan dengan agenda pembangunan nasional Indonesia melalui Asta Cita, pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), hingga upaya bersama dalam mendukung perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Selain memperkuat hubungan bilateral, Indonesia juga diharapkan mampu mendorong lahirnya agenda kerja sama ASEAN-Rusia yang lebih sistematis, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh anggota ASEAN, baik negara besar maupun negara kecil.

"KTT ASEAN-Rusia hendaknya memiliki agenda bersama yang disusun secara sistematis dan terukur sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh anggota ASEAN," kata Rezasyah dikutip Antara.

Dengan peran aktif Indonesia, forum ASEAN-Rusia diharapkan tidak hanya menghasilkan pernyataan politik, tetapi juga langkah-langkah konkret di bidang ekonomi, pembangunan berkelanjutan, investasi, serta kontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas global.

KTT ASEAN-Rusia tahun ini berlangsung pada 17–19 Juni 2026 di Kazan, Rusia. Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri Sugiono.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto tidak menghadiri langsung pertemuan tersebut. Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan sejumlah agenda diplomatik yang telah dijalani Presiden dalam beberapa bulan terakhir.

Sebelumnya, Presiden Prabowo telah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada April 2026. Ia juga telah melakukan pertemuan dengan para pemimpin negara anggota ASEAN dalam KTT ASEAN di Cebu, Filipina, pada Mei 2026.

Selain itu, Presiden memilih untuk memberikan perhatian lebih pada sejumlah agenda prioritas di dalam negeri yang tengah menjadi fokus pemerintah.

Meski demikian, kehadiran Indonesia melalui Menteri Luar Negeri menunjukkan komitmen Jakarta untuk tetap memainkan peran aktif dalam memperkuat hubungan ASEAN-Rusia, sekaligus menjaga stabilitas dan kerja sama kawasan di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru