Foto yang diambil pada 11 Agustus 2026 menunjukkan rendahnya permukaan air Sungai Rhine di Tolkamer, kotamadya Zevenaar, Belanda. (Xinhua/Shao Haijun)
DEN HAAG, ARAHKITA.COM – Belanda menghadapi tekanan serius akibat kekeringan berkepanjangan. Sumber daya air semakin menipis, sementara upaya pemerintah untuk menampung dan mendistribusikan air tawar mulai menghadapi tantangan yang semakin besar.
Kementerian Infrastruktur dan Pengelolaan Air Belanda dalam laporan Drought Monitor atau Pantauan Kekeringan mingguan pada Selasa (11/8/2026) menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi yang “sangat luar biasa”.
Salah satu indikator paling mengkhawatirkan terlihat dari kondisi Sungai Rhein. Debit air di Lobith, titik tempat Sungai Rhein memasuki Belanda dari Jerman, turun hingga sekitar 615 meter kubik per detik. Angka tersebut menjadi level terendah yang pernah tercatat di lokasi tersebut.
Sungai Rhein dan Meuse Sama-Sama Menyusut
Bukan hanya Rhein yang mengalami penurunan debit. Aliran Sungai Meuse, yang mengalir dari Prancis dan Belgia sebelum masuk ke Belanda, juga berada pada level rendah.
Kondisi serupa terjadi pada air tanah. Di sebagian besar wilayah Belanda, level air tanah berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.
Situasi ini membuat persoalan kekeringan tidak lagi sekadar menyangkut berkurangnya hujan, tetapi mulai memengaruhi berbagai kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Kementerian memperkirakan rendahnya aliran sungai masih dapat berlangsung hingga Desember. Dalam waktu dekat, cuaca hangat juga diperkirakan masih bertahan, sementara curah hujan yang signifikan belum terlihat dalam prakiraan untuk pekan mendatang.
Defisit Hujan Mendekati Kondisi Ekstrem 2018
Belanda kini menghadapi defisit curah hujan nasional yang diperkirakan mencapai sekitar 300 milimeter.
Angka tersebut sebanding dengan kondisi yang terjadi ketika Belanda dilanda kekeringan parah pada 2018. Bahkan, di sejumlah wilayah, defisit curah hujan telah menembus 400 milimeter.
Jika kondisi kering terus berlanjut, tekanan terhadap sistem pengelolaan air Belanda berpotensi semakin besar.
Dampaknya pun mulai terasa di berbagai sektor.
Pertanian dan Ekosistem Mulai Terdampak
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan menghadapi kekeringan berkepanjangan.
Kerusakan tanaman pangan dilaporkan semakin memburuk di sejumlah wilayah. Ekosistem juga ikut terdampak karena berkurangnya ketersediaan air dan memburuknya kondisi lingkungan.
Persoalan lain muncul pada kualitas air.
Di beberapa wilayah, laporan menunjukkan adanya kemunculan ganggang biru-hijau serta kematian ikan. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa tekanan terhadap ekosistem perairan semakin serius.
Kekeringan di Eropa Barat sendiri saat ini menjadi perhatian luas. Sejumlah sungai besar di kawasan tersebut mengalami penurunan debit akibat kombinasi suhu tinggi, minimnya curah hujan dan kondisi kekeringan yang berlangsung panjang dilansir Antara.
Pasokan Air Minum Masih Aman
Meski situasinya mengkhawatirkan, pemerintah Belanda memastikan pasokan air minum masih aman.
Namun, terdapat persoalan yang mulai mendapat perhatian serius, yakni meningkatnya kadar garam atau salinitas pada sejumlah sumber air.
Kondisi tersebut dipantau secara ketat, terutama di titik-titik yang digunakan untuk mengambil air baku bagi kebutuhan air minum.
Rendahnya debit sungai dapat meningkatkan risiko masuknya air asin ke wilayah delta sungai. Karena itu, pengelolaan sumber daya air menjadi semakin penting ketika debit sungai terus berada pada level rendah.
Pemerintah Naikkan Status Kelangkaan Air
Tekanan terhadap sumber daya air membuat pemerintah Belanda mengambil langkah lebih jauh.
Pada Juli 2026, status kondisi air dinaikkan dari “kelangkaan air dalam waktu dekat” menjadi “kelangkaan air nyata”. Keputusan tersebut diambil setelah kekeringan berkepanjangan dan suhu tinggi terus membebani sumber daya air negara tersebut.
Sejumlah langkah penghematan air kemudian diberlakukan.
Otoritas antara lain membatasi pengoperasian pintu air di beberapa wilayah untuk mengurangi penggunaan air sekaligus membantu mempertahankan level air.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan air masyarakat, pertanian, industri, transportasi, serta keberlangsungan ekosistem.
Kekeringan Menjadi Tantangan Jangka Panjang
Dengan prakiraan aliran sungai rendah yang dapat berlangsung hingga Desember, persoalan kekeringan di Belanda berpotensi menjadi tantangan yang jauh lebih panjang daripada sekadar persoalan cuaca musim panas.
Rhein merupakan salah satu jalur air penting di Eropa dan memiliki peran besar bagi aktivitas ekonomi serta sistem perairan Belanda. Karena itu, penurunan debit hingga level rekor menjadi sinyal serius mengenai besarnya tekanan terhadap sumber daya air di kawasan tersebut.
Bagi Belanda, negara yang selama berabad-abad dikenal memiliki sistem pengelolaan air yang sangat maju, kondisi ini menjadi pengingat bahwa perubahan pola cuaca dan kekeringan ekstrem dapat menghadirkan tantangan baru.
Kini, perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada bagaimana mempertahankan ketersediaan air dalam beberapa pekan ke depan, tetapi juga bagaimana memastikan sumber daya air tetap aman ketika kondisi kering berlangsung lebih lama.