Loading
Dokter Spesialis Konsultan Bedah Digestif/Pencernaan RS Mayapada Jakarta Selatan dan RS Premier Bintaro dr. Errawan Ramawitana Wiradisuria, Sp.B-KBD, M.Kes dalam acara media gathering mengenai bedah bariatrik untuk obesitas di Jakarta, Rabu (20/05/2026). ANTARA/Vina Ashari.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Penanganan obesitas ekstrem dengan penyakit penyerta atau komorbid kini semakin banyak mengandalkan prosedur bedah bariatrik sebagai solusi medis yang efektif.
Dokter spesialis konsultan bedah digestif, dr. Errawan Ramawitana Wiradisuria, menjelaskan bahwa bedah bariatrik bukanlah tindakan untuk tujuan estetika, melainkan prosedur medis metabolik yang berfokus pada pemulihan fungsi tubuh.
“Bedah bariatrik metabolik ini adalah suatu tindakan untuk mengembalikan fungsi-fungsi normal atau mengurangi komorbid. Jadi bukan untuk kosmetik,” ujar dr. Errawan dalam pemaparan medis di Jakarta, Rabu (20/5/2026)
Ia menegaskan bahwa efek penurunan berat badan bukanlah tujuan utama, melainkan dampak lanjutan dari perbaikan kondisi kesehatan pasien.
Menurutnya, tidak semua pasien obesitas dapat langsung menjalani operasi ini. Penentuan tindakan dilakukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI).
Secara medis, operasi bariatrik umumnya direkomendasikan untuk pasien dengan Obesitas Kelas 2 (BMI di atas 35). Namun, pasien dengan Obesitas Kelas 1 (BMI 30–34,9) masih dapat menjalani prosedur ini jika memiliki penyakit penyerta yang serius.
Komorbid yang menjadi pertimbangan antara lain hipertensi, diabetes melitus, gangguan tidur berat seperti obstructive sleep apnea (OSA), nyeri sendi parah, hingga gangguan hormonal pada perempuan. Pada kasus BMI di atas 50, pasien biasanya membutuhkan prosedur tambahan seperti bypass usus.
Selain itu, terdapat batasan usia bagi pasien yang dapat menjalani operasi, yaitu antara 15 hingga 70 tahun dengan catatan kondisi organ vital masih dalam batas aman berdasarkan evaluasi medis.
dr. Errawan menekankan bahwa proses menuju operasi tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan kerja sama lintas disiplin antara dokter bedah, ahli gizi, serta psikolog atau psikiater untuk memastikan kesiapan pasien secara fisik dan mental.
“Pasien harus benar-benar siap secara mental untuk mengubah total gaya hidup mereka seumur hidup,” ujarnya.
Evaluasi psikologis menjadi salah satu tahapan penting, terutama untuk memastikan pasien tidak memiliki gangguan mental berat yang tidak stabil seperti bipolar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kepatuhan pasien setelah operasi.
Setelah operasi, pasien akan mengalami perubahan pola makan yang sangat ketat. Kapasitas lambung yang menyusut hingga sekitar 70 persen membuat asupan makanan harus dibagi secara bertahap.
Pada minggu pertama, pasien hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan cair, kemudian berlanjut ke makanan semi-cair, semi-padat, hingga kembali ke makanan padat dengan porsi sangat kecil, sekitar 3–4 sendok makan per sekali makan.
“Setelah selesai operasi, makannya harus bertahap. Sebebas-bebasnya masih cuma 3-4 sendok, makannya harus teratur,” kata dr. Errawan.
Pasien juga diwajibkan menjalani empat aturan penting setelah operasi, yaitu konsumsi vitamin seumur hidup, minum air secara bertahap, mengikuti panduan gizi ketat, serta rutin berolahraga untuk membantu pemulihan bentuk tubuh.
Dukungan keluarga juga dinilai sangat penting dalam keberhasilan jangka panjang pasien, terutama untuk mencegah kembalinya pola hidup lama yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan kembali.