Rabu, 02 September 2026

Ketua Dewan Pers: Media Baru Harus Menguatkan Nalar Sehat Demokrasi


  • Selasa, 16 Desember 2025 | 23:30
  • | News
 Ketua Dewan Pers: Media Baru Harus Menguatkan Nalar Sehat Demokrasi Ketua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat saat menghadiri Dialog Nasional Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) bertajuk Media Baru Menuju Pers Sehat yang digelar di Hall Dewan Pers, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2025). (Foto: Dok. SMSI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat, menegaskan bahwa tantangan terbesar media di era disrupsi bukan semata soal kecepatan, melainkan kemampuan menjaga kualitas diskursus publik agar tetap sehat dan bermakna bagi demokrasi.

Penegasan tersebut disampaikan Prof. Komaruddin saat menghadiri Dialog Nasional Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) bertajuk “Media Baru Menuju Pers Sehat” yang digelar di Hall Dewan Pers, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2025).

Menurut Komaruddin, disrupsi dan kompetisi sejatinya telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban manusia sejak lama. Namun, perubahan ekosistem informasi saat ini berlangsung jauh lebih cepat dan kompleks, seiring berkembangnya media digital dan media sosial.

“Informasi hari ini dipengaruhi oleh tiga kekuatan besar, yakni energi, uang, dan informasi itu sendiri. Ketiganya saling berkaitan dan saling menopang,” ujarnya.Ia menyoroti kuatnya relasi antara arus informasi dan pergerakan modal. Narasi yang dibangun media dinilai berpengaruh langsung terhadap perhatian publik dan potensi ekonomi suatu wilayah.

“Sumatra tidak akan mengalir uang jika tidak ada informasi,” terangnya.

Lebih jauh, Prof. Komaruddin membandingkan kondisi ruang publik saat ini dengan periode awal Orde Baru yang masih diwarnai perdebatan gagasan, teori pembangunan, dan pertukaran pemikiran kritis. Saat ini, ruang publik justru dipenuhi keluhan, ujaran kebencian, isu korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, serta kaburnya batas antara kepentingan keluarga dan negara.

“Di sinilah panggilan tugas pers, yakni membangun kembali kepercayaan publik. Masyarakat sudah jenuh dengan berita hoaks dan konflik, mereka membutuhkan informasi yang realistis, berkualitas, dan penuh harapan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pers tetap memegang peran sebagai pilar keempat demokrasi. Namun, kehadiran media sosial dan media siber membawa tantangan baru yang tidak bisa diabaikan.

Media sosial, menurutnya, dapat menjadi alat penguat demokrasi, tetapi juga berpotensi melemahkannya jika tidak diiringi dengan nalar sehat dan tanggung jawab etis.

“Di sinilah peran media profesional sangat penting, untuk memperkuat demokrasi melalui informasi yang berimbang, bernalar, dan bertanggung jawab,” ujarnya.Komaruddin menambahkan, setiap gagasan yang lahir di ruang publik dan dikemas menjadi informasi memiliki daya ubah yang besar. Karena itu, tanggung jawab media menjadi semakin berat di tengah derasnya arus informasi.

Dialog nasional tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi antara media, pemangku kebijakan, serta praktisi digital dalam menghadapi tantangan era media baru.

Kegiatan ini menghadirkan delapan pembicara dari berbagai latar belakang, termasuk Hersubeno Arief sebagai praktisi media senior dan pengamat politik, serta Nuzula Anggeraini, Direktur Politik dan Komunikasi Kementerian PPN/Bappenas, yang mewakili perspektif pemerintah.

Turut hadir dalam dialog ini Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat beserta sejumlah anggota Dewan Pers, Ketua dan Anggota Dewan Pakar SMSI Prof. Dr. H. Yuddy Crisnandi dan Prof. Henri Subiakto, Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika, wartawan senior Aiman Witjaksono, serta Dr. Ariawan selaku Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP).

Dialog dipandu oleh Prof. Dr. Taufiqurochman, A.Ks., S.H., S.Sos., M.Si., yang saat ini menjabat sebagai Dewan Penasihat SMSI Pusat.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru