Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam perayaan Misa Paskah di lingkungan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Bandung, Jumat (17/4/2026). (Foto: Istimewa)
BANDUNG, ARAHKITA.COM – Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam perayaan Misa Paskah di lingkungan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Bandung, Jumat (17/4/2026). Tidak hanya berlangsung khidmat, perayaan ini juga menjadi ruang refleksi mendalam bagi para prajurit, pejabat, dan umat Katolik yang hadir.
Misa dipimpin langsung oleh Uskup Bandung, Antonius Subianto Bunjamin, didampingi Wakil Uskup untuk umat Katolik TNI-Polri, Romo Yos Bintoro, Pr, serta sejumlah imam lainnya. Hadir pula Komandan Seskoad, Mayjen TNI Dr. Agustinus Purboyo, bersama jajaran prajurit dan umat dari Garnisun Tetap II Bandung.
Kekuatan Prajurit Dimulai dari Dalam
Dalam homilinya, Uskup Antonius mengajak umat untuk melihat kembali makna kekuatan sejati. Menurutnya, seorang prajurit tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga secara rohani.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan jasmani memang penting, tetapi kekuatan rohani justru menjadi fondasi utama dalam menjalani hidup dan tugas pengabdian.
“Makanan jasmani membuat kita bertahan hidup, tetapi makanan rohani menentukan arah hidup kita,” pesannya.Di tengah tuntutan tugas yang tinggi, pesan ini menjadi relevan—bahwa ketahanan batin adalah kunci agar seseorang tidak mudah goyah.
Belajar dari Lima Roti dan Dua Ikan
Uskup Antonius juga mengangkat kisah Injil tentang mukjizat lima roti dan dua ikan. Ia menyoroti bagaimana Yesus memberi teladan kepedulian—memberi bukan karena diminta, tetapi karena belas kasih.
Pesan ini kemudian ditarik ke kehidupan sehari-hari, termasuk dalam konteks prajurit.
Sering kali, manusia merasa kekurangan. Namun menurutnya, yang terpenting adalah mengubah cara pandang: dari mentalitas kekurangan menjadi mentalitas kelimpahan.
“Jangan fokus pada apa yang tidak kita punya. Apa yang kita miliki, jika diserahkan kepada Tuhan, bisa menjadi berkat bagi banyak orang.”
Nilai Profesionalisme dan Iman Harus Sejalan
Dalam konteks TNI-Polri, pesan Injil tersebut dikaitkan dengan nilai-nilai profesionalisme seperti PRIMA di TNI dan PRESISI di Polri.
Namun, Uskup Antonius mengingatkan bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari jabatan, teknologi, atau strategi semata.
Tanpa kekuatan rohani, seseorang tetap bisa merasa kosong.
“Banyak orang berhasil secara materi, tetapi tetap rapuh karena tidak memiliki kekuatan batin.”
Karena itu, ia mengajak umat untuk tidak menjadikan ibadah sekadar rutinitas, melainkan sebagai perjumpaan nyata dengan Tuhan yang memberi kekuatan hidup.
Menjadi ‘Lima Roti dan Dua Ikan’ bagi Sesama
Menutup homilinya, Uskup Antonius mengajak seluruh umat—terutama prajurit TNI-Polri—untuk menjadi pribadi yang sederhana namun berdampak.
Seperti lima roti dan dua ikan, hal kecil yang dimiliki setiap orang dapat menjadi berkat besar jika dibagikan.
Pesan ini menjadi inti refleksi Paskah: bahwa setiap orang dipanggil untuk membawa kebaikan, dimulai dari apa yang dimiliki.
Momentum Kebersamaan dan Solidaritas
Mengusung tema “Paskah Mewujudkan Penguatan Iman serta Solidaritas TNI/Polri dan ASN TNI/Polri yang Prima dan Presisi dalam rangka Mendukung Indonesia Maju,” perayaan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memperkuat kebersamaan lintas institusi.
Kolaborasi antara Keuskupan Bandung dan Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) juga menunjukkan pentingnya pelayanan rohani bagi umat Katolik di lingkungan TNI-Polri.
Usai misa, suasana semakin hangat dengan acara ramah tamah yang diisi hiburan musik dan tari. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga diwarnai aksi sosial berupa penyerahan tali asih kepada panti asuhan.
Sebagai bentuk apresiasi, buku perjalanan 75 tahun Keuskupan Bandung turut diserahkan kepada paroki-paroki yang berkontribusi dalam penyelenggaraan misa.
Perayaan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati tidak hanya dibangun dari latihan dan strategi, tetapi juga dari iman, kepedulian, dan kebersamaan.