Pengamanan humanis menjadi kunci sukses Sidang Pleno XII FABC 2026 di Jakarta. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kesuksesan penyelenggaraan Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) 2026 di Jakarta bukan hanya terlihat dari lancarnya seluruh agenda para uskup Katolik se-Asia. Lebih dari itu, perhelatan internasional tersebut berlangsung dalam suasana yang aman, nyaman, dan penuh semangat persaudaraan.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari strategi pengamanan yang mengedepankan pendekatan profesional sekaligus humanis. Tim pengamanan dipimpin oleh Brigjen TNI (Purn.) P. Gunung Sarasmoro, S.E., M.E., dan Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana, S.H., M.Si., yang kini mengabdi di lingkungan Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan Umat Katolik di lingkungan TNI-Polri.
Keamanan Hadir Tanpa Mengganggu
Baca juga:
Wakil Uskup TNI-Polri Temui Kedubes Vatikan, OCI Siapkan Audiensi Khusus dengan Paus Leo XIVBrigjen TNI (Purn.) P. Gunung Sarasmoro menjelaskan, filosofi utama pengamanan selama Sidang Pleno XII FABC adalah menghadirkan rasa aman tanpa membuat peserta merasa diawasi secara berlebihan.
Menurutnya, keberhasilan pengamanan bukan diukur dari banyaknya personel yang terlihat, melainkan ketika seluruh peserta dapat berdoa, berdialog, dan mengikuti seluruh agenda dengan tenang.
"Filosofi yang kami pegang adalah security that is present, but not intrusive. Keamanan harus hadir, tetapi tidak mengganggu," ujarnya.
Pendekatan tersebut diterapkan melalui sistem pengamanan yang adaptif, berbasis pencegahan, serta didukung sikap ramah dari seluruh petugas sehingga suasana tetap hangat dan mencerminkan keramahan Indonesia.
Baca juga:
5 Rekomendasi Seru Akhir Pekan di Jakarta: Dari MBloc Design Week hingga Jakarta Muslim Fashion WeekKeamanan dan Hospitality Berjalan Bersama
Sementara itu, Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana menegaskan bahwa pengamanan dalam kegiatan internasional tidak bisa dipisahkan dari pelayanan yang baik kepada para tamu.
Menurutnya, setiap petugas keamanan juga menjadi wajah pertama Indonesia ketika menyambut para delegasi internasional yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
"Pelayanan yang sopan, komunikasi yang baik, serta penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian dari tugas kami," katanya.
Antisipasi Ancaman Sejak Dini
Di tengah dinamika keamanan global yang semakin kompleks, Herry menilai tantangan pengamanan saat ini tidak hanya berasal dari ancaman fisik, tetapi juga potensi risiko yang berkembang di ruang digital.
Karena itu, tim pengamanan mengutamakan deteksi dini, koordinasi lintas instansi, pertukaran informasi secara cepat, hingga kesiapsiagaan yang terukur agar setiap potensi gangguan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah.
Pengamanan juga diawali dengan pemetaan risiko secara menyeluruh, mulai dari identifikasi kerawanan, penyusunan strategi mitigasi, hingga menyiapkan rencana kontinjensi bagi seluruh agenda, termasuk tamu-tamu VIP.
Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan
Gunung Sarasmoro menegaskan, keberhasilan pengamanan Sidang Pleno XII FABC merupakan hasil sinergi berbagai pihak, mulai dari TNI, Polri, pemerintah, pengelola kawasan bandara, panitia FABC, OCI, hingga seluruh unsur pendukung lainnya.
Menurutnya, tidak ada satu lembaga pun yang mampu bekerja sendiri dalam mengamankan kegiatan internasional sebesar FABC.
"Kolaborasi inilah yang menjadi wajah nyata semangat gotong royong Indonesia," ungkapnya.
Indonesia Tunjukkan Wajah Toleransi
Lebih jauh, Gunung Sarasmoro menilai suksesnya penyelenggaraan Sidang Pleno XII FABC menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menjadi rumah bagi dialog lintas bangsa dan lintas agama.
Para uskup dari berbagai negara dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan aman dan nyaman, sekaligus merasakan langsung nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan hidup berdampingan dalam keberagaman yang menjadi kekuatan Indonesia.
Keamanan adalah Bentuk Pelayanan
Bagi Herry Dahana, keamanan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar menjaga ketertiban.
"Hakikat keamanan adalah melindungi martabat manusia. Ketika seseorang merasa aman, ia dapat beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan tenang, berdialog secara terbuka, dan membangun persaudaraan tanpa rasa takut. Karena itu, keamanan adalah bentuk pelayanan kepada sesama," tuturnya.
Senada, Gunung Sarasmoro mengatakan bahwa pengamanan yang efektif dibangun bukan hanya melalui personel, pagar, atau kendaraan pengamanan, tetapi juga melalui kepercayaan antarpihak.
Dengan adanya rasa saling percaya, komunikasi menjadi lebih terbuka, koordinasi berjalan lebih cepat, dan berbagai persoalan dapat diselesaikan secara efektif.
Membawa Pulang Kesan Positif tentang Indonesia
Menurut Gunung Sarasmoro, penghargaan terbesar bagi tim pengamanan bukan sekadar karena tidak adanya insiden selama Sidang Pleno XII FABC berlangsung.
Yang paling membanggakan adalah ketika para peserta kembali ke negara masing-masing dengan membawa kesan bahwa Indonesia adalah negara yang aman, ramah, serta menghormati setiap tamunya.
Sementara itu, Herry Dahana mengajak generasi muda untuk melihat keamanan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas aparat negara.
Menurutnya, perdamaian lahir dari sikap saling menghormati, menaati aturan, menjaga toleransi, menolak kekerasan, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Dengan semangat tersebut, Indonesia diyakini akan semakin kuat sebagai bangsa yang damai, beradab, dan dihormati oleh masyarakat internasional.