H. Rasyid Wahab: Gagasan Merawat Kebhinekaan dan Solidaritas Antarkomunitas melalui Gotong-Royong


  • Minggu, 13 September 2020 | 11:30
  • | News
 H. Rasyid Wahab: Gagasan Merawat Kebhinekaan dan Solidaritas Antarkomunitas melalui  Gotong-Royong Tokoh Agama yang juga Ketua FKUB Kabupaten Sikka, H. Abdul Rasyid Wahab dalam diskusi daring nasional melalui Webinar bertajuk:"Pengarusutamaan Masyarakat Lokal dalam Pembangunan dengan Spirit Kebhinekaan" digelar Sabtu, 12 September 2020. (Foto: Humas KBM JAYA)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Tokoh Agama yang H. Abdul Rasyid Wahab ketika berbagi pengalaman merawat spirit kebhinekaan dan solidaritas sosial pembangunan daerah dalam diskusi daring webinar nasional bertajuk:"Pengarusutamaan Masyarakat Lokal dalam Pembangunan dengan Spirit Kebhinekaan" digelar Sabtu, 12 September 2020 mengatakan mengenai gagasan merawat kebhinekaan dan solidaritas antar komunitas Pembangunan Daerah, pertama dengan melalui pendekatan budaya (budaya Sikka) adalah gotong royong.

"Melalui kekerabatan untuk menunjang kebersamaan, melalui agama penghayatan atas perbedaan untuk saling mengenal, saling memahami, saling menghormati, saling toleransi, dan saling menolong. Selalu terbina silaturahmi mempererat persatuan dan persaudaraan dengan cinta kasih sebagai perekat,"ungkap cendekiawan Muslim ini.

Haji Rasyid dalam kesempatan tersebut juga berbagi pengalaman merawat spirit kebhinekaan dan solidaritas sosial pembangunan daerah. Kata Haji Rasyid,"Saya bersyukur dilahirkan di Sikka sebagai generasi ke lima dari leluhur ata goan, telah terjalin hubungan kekerabatan baik dari pihak ayah maupun ibu, berpengalaman sebagai birokrat sejak tahun 1966, 1933. Selain dari aktif di lembaga sosial, juga sampai sekarang aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sikka. Berkat pengalaman itulah saya mengenal dan dikenal masyarakat Sikka dan berusaha menjaga merawat hubungan kekerabatan, persahabatan, hubungan dengan tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Merawat spirit kebhinekaan dan solidaritas sosial pembangunan daerah yaitu dengan selalu berkomunikasi dan silaturahmi".

Dijelaskan Haji Rasyid, kolaborasi kerja sama gotong-royong antar komunitas, dalam keadaan ini sejak tahun 1985. "Sampai sekarang kami berkerja sama dengan semua pihak membangun 20 sekolah dan Madrasah dari TK Paud sampai Perguruan Tinggi. Dalam bidang sosial, membentuk lembaga penanggulangan bencana alam bekerjasama dengan Caritas, seperti penanggulangan bencana alam letusan Gunung Api Rokatenda dari tahap darurat sampai relokasi,"kata Ketua FKUB Kabupaten Sikka.

Haji Rasyid menambahkan terkait konflik sosial, sepanjang tutur sejarah dari pada leluhur sampai dengan generasi sekarang belum ada suatu konflik yang besar atau tidak ada sama sekali, kecuali terjadi penghinaan terhadap Hosti, Alhamdulillah segera diselesaikan dan dilanjutkan dengan sosialisasi kerukunan agama ke Kecamatan oleh tokoh-tokoh agama.

Haji Rasyid berharap melalui empat pilar kebangsaan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika turut memperkuat solidaritas kebersamaan dan persaudaraan persatuan. Selanjutnya kata dia supaya pemerintah melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam perencanaan pembangunan, sehingga terbina kerja sama antar masyarakat dengan masyarakat dan antar masyarakat dengan pemerintah. Saya kira cukup sekian saja dari saya.

Haji Rasyid dalam kesempatan tersebut juga mengusulkan supaya Ata Goan Sikka dijadikan satu suku/etnik saja di Maumere dan tidak dianggap sebagai pendatang.

Usulan tersebut ditanggapi Ketua Umum KBM JAYA, Petrus Selestinus dengan mengatakan,"Iya usul ini 1 tahun lalu juga diusulkan dalam diskusi di Maumere agar Ata Goan Sikka dijadikan satu suku di Maumere. Saya kira usul ini menarik untuk diperjuangkan karena Ata Goan itu merupakan komunitas Sikka Goan tradisional yang sudah turun temurun ada di Sikka dengan kulturnya sendiri".

Narasumber lainnya dalam mendukung pembahasan tema di atas berasal dari daerah dan nasional dengan latar belakang beragam. Narasumber tersebut adalah Bupati Sikka periode 2003-2008, (Drs Alex Longginus), Drs. Melkhias Markus Mekeng (Anggota DPR RI), Pater Dr. Hubert Thomas, SVD dan Pater Dr. John Prior, SVD–keduanya sebagai Cendekiawan Katolik dari Puslit Candraditya Maumere, John Bala, SH sebagai aktivis HAM, Robert Endi Jaweng, MAP sebagai Direktur Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), dan Petrus Selestinus, SH, MH sebagai Ketua KBM Jaya dan Koordinator TPDI.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru