Pendiri Lonely Planet Masukkan Bali ke Daftar Destinasi yang Tidak Ingin Dikunjunginya Lagi, Mengapa?


  • Sabtu, 17 Mei 2025 | 11:00
  • | News
 Pendiri Lonely Planet Masukkan Bali ke Daftar Destinasi yang Tidak Ingin Dikunjunginya Lagi, Mengapa? Salah satu pendiri Lonely Planet Tony Wheeler. (The Sydney Morning)

JAKARTA, ARAHDESTINASI.COMSalah satu pendiri Lonely Planet, Tony Wheeler, secara mengejutkan menyebut Bali sebagai salah satu dari empat destinasi di dunia yang tidak ingin ia kunjungi lagi. Meski menyebut banyak hal positif tentang Pulau Bali, ia menyoroti satu masalah serius yang menurut dia tidak masuk akal: kemacetan lalu lintas.

Dalam tulisan blog pribadinya yang berjudul "Saya Tidak Akan Pergi ke Sana Lagi", Wheeler menulis bahwa kemacetan parah di Bali membuatnya enggan kembali, kecuali ada alasan sangat kuat.

Bali memiliki tempat menginap yang luar biasa, seni dan tari yang memukau, kuliner yang enak, dan tempat belanja yang menarik. Tapi saya tidak ingin lagi menghabiskan dua jam dalam perjalanan dari Kuta ke Ubud,” tulisnya seperti dilansir The Independent.

Wheeler baru-baru ini kembali mengunjungi Bali untuk reunidengan  penulis perjalanan, namun mengaku kecewa karena masalah infrastruktur transportasi belum juga diatasi. 

Tiga destinasi lain yang masuk dalam daftar Wheeler adalah Rusia, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Wheeler mengungkapkan alasan tidak akan kembali ke Rusia. "Saya tidak akan kembali ke Rusia, selama mereka bersekutu dengan Korea Utara dan AS untuk menyerang Ukraina. Dan selama Putin terus membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Tentu saja ada banyak kematian warga Ukraina, tetapi ada juga 27 warga Australia di antara 298 penumpang dan awak yang tidak bersalah di Malaysia Airlines MH17 yang ditembak jatuh oleh anak buah Putin pada tahun 2014," tulisnya.

"Saya tidak akan kembali ke Rusia, selama mereka bersekutu dengan Korea Utara dan AS untuk menyerang Ukraina. Dan selama Putin terus membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Tentu saja ada banyak kematian warga Ukraina, tetapi ada juga 27 warga Australia di antara 298 penumpang dan awak yang tidak bersalah di Malaysia Airlines MH17 yang ditembak jatuh oleh anak buah Putin pada tahun 2014," tulis Wheeler.

Arab Saudi  yang sudah menginvestasikan puluhan miliar dolar dalam upaya untuk menjadi tujuan wisata terkemuka juga masuk dalam daftar.

“Begitu banyak alasan mengapa saya tidak ingin pergi ke sana lagi, entah itu pembunuhan jurnalis (Jamal Khashoggi di Istanbul) atau laporan The New York Times tentang orang Saudi yang membunuh pekerja rumah tangga Afrika Timur."

“Atau dalam perjalanan saya sendiri ke Somaliland pada tahun 2022, saya bertemu dengan cheetah yang diselamatkan dari pengiriman ke Arab Saudi untuk dipelihara sebagai hewan peliharaan, dan kemudian dibunuh ketika mereka tumbuh terlalu besar. Siapa yang tahu Somaliland memiliki cheetah? Siapa yang begitu bodoh untuk berpikir mereka mungkin menjadi hewan peliharaan yang baik? Arab Saudi? Tidak, terima kasih," tulisnya.

Wheeler mengunjungi Arab Saudi pada tahun 2002 dan Rusia pada tahun 2013. Dia terakhir kali berada di Amerika Serikat (AS) yang juga masuk dalam daftar pada 2024 dan sudang mengelilingi 50 negara bagian. Namun dengan kondisi sekarang (merujul pada Donald Trump) dia tidak ingin pergi ke AS lagi.

“Meskipun telah menghabiskan hampir 10 tahun hidup saya di AS (Midwest, East Coast, West Coast) dan meskipun memiliki banyak teman Amerika, saat ini saya senang meninggalkan AS dan memasukkan di urutan paling bawah daftar keinginan saya. Selama Trumpistan bahu-membahu dengan Rusia dan Korea Utara dalam menimbulkan kekacauan di dunia, terlepas dari tarif yang gila-gilaan – maaf, tidak, terima kasih.”

Tony Wheeler, bersama istrinya Maureen, mendirikan Lonely Planetsalah satu penerbit panduan perjalanan terbesar di dunia. Pasangan ini menjual perusahaannya ke BBC Worldwide pada 2007.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru