Loading
Rasa Aman Finansial Masih Rendah, Hanya 14% Masyarakat Indonesia yang Benar-Benar Tenang Soal Uang. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah tekanan ekonomi dan biaya hidup yang terus meningkat, rasa aman secara finansial masih menjadi kemewahan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Temuan terbaru dari Sun Life Asia Financial Resilience Index 2026 menunjukkan bahwa hanya 14% masyarakat Indonesia yang merasa sangat aman secara finansial. Angka ini menggambarkan bahwa mayoritas masyarakat masih dihantui kekhawatiran mengenai kondisi keuangan mereka, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun menghadapi masa depan.
Namun di balik angka tersebut, terdapat kabar yang cukup menggembirakan. Tingkat ketahanan finansial masyarakat Indonesia justru menunjukkan peningkatan. Proporsi masyarakat yang masuk kategori memiliki ketahanan finansial tinggi naik dari 30% pada 2025 menjadi 34% pada 2026.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan ekonomi masih terasa, semakin banyak masyarakat yang mulai membangun fondasi keuangan yang lebih kuat.
Tantangan Terbesar: Biaya Hidup dan Tanggung Jawab Keluarga
Studi yang dilakukan Sun Life Asia bersama Genpop pada April 2026 terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia mengungkap bahwa tantangan finansial terbesar masyarakat bukan hanya soal pendapatan.
Sebanyak 77% responden mengaku belum merasa aman dalam memenuhi tanggung jawab finansial terhadap keluarga. Sementara itu, kenaikan biaya hidup yang terus berlangsung membuat banyak orang harus menyesuaikan pola pengeluaran mereka.
Bahkan, hanya 4% responden yang merasa siap menghadapi kenaikan biaya hidup lebih lanjut apabila kondisi ekonomi semakin menantang.
Situasi ini menunjukkan bahwa rasa aman finansial tidak hanya bergantung pada jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga pada kemampuan seseorang mengelola kewajiban keuangan dan mempersiapkan masa depan.
Ketahanan Finansial Meningkat, Optimisme Mulai Tumbuh
Di tengah berbagai tantangan tersebut, masyarakat Indonesia menunjukkan kemampuan beradaptasi yang cukup baik.
Sebanyak 45% responden mengaku mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan, sebuah indikator penting dalam mengukur ketahanan finansial.
Selain itu, tingkat keyakinan untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang juga meningkat menjadi 68%, menunjukkan adanya optimisme yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
Meski demikian, tekanan ekonomi tetap memengaruhi perilaku keuangan masyarakat. Sebanyak 23% responden mengaku menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara 26% lainnya memilih mengurangi atau menunda sejumlah pengeluaran demi menjaga keseimbangan keuangan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak keluarga masih harus mencari titik tengah antara memenuhi kebutuhan saat ini dan menjaga stabilitas finansial di masa depan.
Perencanaan Keuangan Terbukti Membuat Lebih Percaya Diri
Salah satu temuan paling menarik dalam studi ini adalah besarnya pengaruh perencanaan keuangan terhadap rasa percaya diri seseorang.
Responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang tercatat lebih dari tiga kali lebih percaya diri dalam mencapai tujuan finansial dibanding mereka yang tidak memiliki perencanaan yang jelas.
Angkanya cukup mencolok: 86% responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang yakin dapat mencapai target finansial mereka, sementara pada kelompok tanpa perencanaan angka tersebut hanya 25%.
Artinya, langkah sederhana seperti menyusun anggaran, menetapkan tujuan keuangan, membangun dana darurat, hingga mulai berinvestasi secara teratur dapat memberikan dampak besar terhadap rasa aman finansial.
Literasi Keuangan Jadi Pembeda Utama
Studi ini juga menemukan bahwa individu dengan tingkat literasi keuangan yang lebih baik memiliki ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Mereka yang memahami konsep pengelolaan keuangan memiliki tingkat kepercayaan diri finansial 53 poin lebih tinggi dan optimisme terhadap masa depan yang 47 poin lebih tinggi dibanding mereka yang literasi keuangannya rendah.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kemampuan mengelola uang sering kali lebih menentukan daripada besarnya pendapatan yang dimiliki.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas hidup.
AI Mulai Menjadi "Penasihat Keuangan" Baru
Perkembangan teknologi juga ikut mengubah cara masyarakat mencari informasi finansial.
Sebanyak 68% responden mengaku telah menggunakan generative AI untuk mendapatkan panduan dan informasi keuangan, sementara 67% memperkirakan penggunaannya akan semakin meningkat dalam 12 bulan ke depan.
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan semakin diterima sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan finansial.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Kemampuan memahami informasi dan mengevaluasi risiko tetap menjadi faktor utama agar keputusan keuangan yang diambil tetap tepat dan sesuai kebutuhan.
Rasa Aman Finansial Dibangun dari Pengetahuan dan Perencanaan
President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menegaskan bahwa bagi banyak masyarakat Indonesia, rasa aman finansial tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga kemampuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan orang-orang terdekat.
Menurutnya, meskipun tantangan ekonomi masih dirasakan, semakin banyak masyarakat yang mulai mengambil langkah positif untuk memperkuat fondasi keuangan mereka.
"Kehadiran mitra keuangan yang terpercaya, literasi yang baik, serta pemanfaatan teknologi secara bijak akan membantu masyarakat menghadapi ketidakpastian dengan lebih percaya diri dan mewujudkan tujuan keuangan jangka panjang," ujarnya dalam rilis yang diterima media ini.
Hasil Sun Life Asia Financial Resilience Index 2026 memberikan gambaran yang menarik tentang kondisi finansial masyarakat Indonesia saat ini. Di satu sisi, rasa aman finansial masih relatif rendah dan tekanan biaya hidup terus menjadi tantangan. Namun di sisi lain, ketahanan finansial, optimisme, serta kesadaran terhadap pentingnya perencanaan keuangan menunjukkan perkembangan yang positif.
Pesan terbesarnya jelas: membangun masa depan finansial yang lebih aman tidak selalu dimulai dari penghasilan yang lebih besar, tetapi dari kemampuan mengelola keuangan, meningkatkan literasi finansial, dan memanfaatkan teknologi secara cerdas.