Anggota Komisi I DPR fraksi PDIP Effendi Simbolon. (Breakingnews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pemilu gabungan atau serentak antara Pileg daN Pilpres 2019 dinilai sangat "rumit". Dari sisi teknis saja sudah rumit ketika akan melakukan pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena begitu banyaknya kertas suara yang harus dilakukan satu persatu di bilik suara. Karena itu, para politisi di Senayan meminta agar pelaksanaan pemilu Legislatif dan pIlpres harus dipisahkan sebagaimana sebelumnya.
Usulan tersebut datang dari Anggota Komisi I DPR fraksi PDIP Effendi Simbolon dalam diskusi bertema “Tenggelamnya Caleg di Tengah Hiruk Pikuk Pilpres” di Media Center DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (28/3/2019).
"Tingkat kerumitan Pilpres dan Pileg dilakukan secara serentak pada Pemilu 2019 ini begitu tinggi. Tingkat kesulitan memilih saja sudah menjadi masalah sendiri karena ada lima surat suara yang akan dipilih. Belum lagi teknis penghitungan suara yang memerlukan waktu yang lama," kata Effendi.
“Di ruangan ini (wartawan yang menjadi peserta diskusi-Red) saja jika kita simulasi, yakin 50% belum ngerti. Jangan salahkan mereka, ini pemilih pemilihan kompleksitas. Masalah itu kita yang buat sendiri,” ujarnya.
Karena itu dia setuju kalau Pemilu pemilihan anggota legislatif (Pileg) dengan pemilu pemilihan presiden (Pilpres) dipisahkan kembali.
“Bukannya harus, tapi seharusnya. “Kita harus sadarlah. Menurut saya, bagi kita orang Indonesia, belum kebutuhanlah demokrasi itu. Jujur sajalah,” imbuhnya.
Efendy merasa heran dengan demokrasi yang terapkan sekarang ini.
“Demokrasi model predator seperti ini sudah gak jelas. Jadi kita memilih demokrasi dibilang liberal juga gak seperti ini,” kritiknya.