Loading
4 Kebiasaan saat Berselancar di Internet yang Bisa Membuka Celah Kejahatan Siber. (Ilustrasi AI)
DI TENGAH pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, ancaman kejahatan siber juga terus meningkat. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan secara online, mulai dari berbelanja, bertransaksi, hingga bekerja melalui perangkat digital, semakin besar pula peluang bagi pelaku kejahatan untuk menjalankan berbagai modus penipuan.
Data Indonesia Anti Scam Center (IASC) mencatat lebih dari 548.000 laporan kejahatan siber sepanjang Januari 2024 hingga April 2026. Penipuan online dan phishing menjadi jenis ancaman yang paling banyak dilaporkan.
Yang sering luput dari perhatian, banyak kasus kejahatan siber justru berawal dari kebiasaan digital sehari-hari yang dianggap sepele. Padahal, tindakan sederhana seperti mengklik tautan sembarangan, menggunakan browser tanpa pembaruan, atau memberikan izin akses tanpa membaca detailnya dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan untuk mencuri data dan mengambil alih akun.
Baca juga:
Pria di AS Didakwa Retas 570 Akun Snapchat Perempuan, Modusnya Menyamar Jadi Petugas ResmiLalu, kebiasaan apa saja yang perlu diwaspadai?
1. Membiarkan Puluhan Tab Browser Tetap Terbuka Berhari-hari
Pernah membuka banyak artikel atau halaman web lalu membiarkannya tetap terbuka selama berhari-hari? Kebiasaan ini ternyata bukan hanya membuat browser menjadi lebih lambat.
Beberapa tab yang terus aktif dapat menjalankan pelacak (tracker), memuat iklan, hingga mengambil data di latar belakang tanpa disadari pengguna. Semakin banyak tab yang terbuka, semakin besar pula potensi risiko terhadap privasi dan keamanan digital.
Menutup tab yang sudah tidak digunakan merupakan langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi paparan ancaman digital. Selain itu, penggunaan browser yang memiliki fitur pengelolaan tab dan perlindungan privasi juga dapat membantu menjaga keamanan saat berselancar di internet.
2. Asal Klik "Terima Semua" Saat Muncul Pop-up Cookie
Hampir setiap situs web saat ini menampilkan notifikasi penggunaan cookie. Karena ingin segera mengakses halaman yang dituju, banyak pengguna langsung menekan tombol "Terima Semua" tanpa membaca pengaturannya terlebih dahulu.
Padahal, tidak semua cookie digunakan untuk kebutuhan teknis situs. Sebagian cookie berfungsi melacak aktivitas pengguna di berbagai website untuk mengumpulkan informasi mengenai kebiasaan dan minat mereka.
Data tersebut umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan iklan yang lebih tertarget. Namun dalam situasi tertentu, informasi yang terkumpul juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk membuat modus penipuan atau phishing yang lebih meyakinkan karena disesuaikan dengan aktivitas online calon korbannya.
Karena itu, penting untuk meluangkan waktu memeriksa pengaturan privasi sebelum memberikan persetujuan. Jika tersedia, pilih hanya cookie yang benar-benar diperlukan dan tolak izin pelacakan yang tidak dibutuhkan.
3. Memasang Terlalu Banyak Ekstensi Browser
Ekstensi browser memang dapat meningkatkan produktivitas dan memberikan berbagai fitur tambahan. Mulai dari pencatat informasi, pengelola kata sandi, hingga pencari promo belanja.
Namun tidak semua ekstensi aman digunakan.
Beberapa ekstensi diketahui dapat mengumpulkan data penelusuran pengguna, memantau aktivitas online, atau meminta akses yang tidak relevan dengan fungsi utamanya. Dalam kasus yang lebih serius, ekstensi berbahaya bahkan dapat digunakan untuk mencuri informasi login, menyisipkan iklan mencurigakan, hingga mengarahkan pengguna ke situs berbahaya tanpa disadari.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pastikan hanya mengunduh ekstensi dari sumber tepercaya dan rutin mengevaluasi ekstensi yang terpasang. Hapus ekstensi yang sudah tidak digunakan atau meminta izin akses berlebihan.
4. Mengabaikan Update Browser karena Merasa Masih Normal
Banyak pengguna menunda pembaruan browser dengan alasan aplikasi masih berjalan lancar. Padahal, update browser tidak hanya menghadirkan fitur baru, tetapi juga memperbaiki berbagai celah keamanan yang baru ditemukan.
Jika browser tidak diperbarui, perangkat menjadi lebih rentan terhadap serangan malware, phishing, pencurian data, hingga berbagai ancaman siber yang terus berkembang.
Mengaktifkan pembaruan otomatis menjadi salah satu langkah paling sederhana untuk menjaga keamanan saat beraktivitas di internet. Dengan begitu, pengguna akan selalu mendapatkan perlindungan terbaru tanpa harus melakukan pembaruan secara manual.
Keamanan Siber Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Di era digital saat ini, keamanan online tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kebiasaan pengguna sehari-hari.
Semakin banyak aktivitas yang dilakukan secara online, semakin penting pula kesadaran terhadap keamanan siber. Langkah-langkah sederhana seperti menutup tab yang tidak digunakan, lebih selektif dalam menerima cookie, membatasi penggunaan ekstensi, dan rutin memperbarui browser dapat membantu mengurangi risiko menjadi korban kejahatan siber.
Product Privacy & Security Advocate Opera, Michael Tegos, mengatakan bahwa ancaman digital yang menargetkan pengguna sehari-hari kini semakin canggih seiring pertumbuhan ekonomi digital global.
Menurutnya, banyak orang belum menyadari bahwa mereka sebenarnya memiliki kendali besar terhadap keamanan online pribadi. Perubahan kebiasaan kecil seperti memperbarui browser secara rutin, meninjau ekstensi yang digunakan, serta lebih selektif dalam menerima cookie dapat membantu menurunkan risiko paparan terhadap pelaku kejahatan siber secara signifikan.
Karena itu, membangun kebiasaan digital yang lebih aman menjadi langkah penting untuk melindungi data pribadi dan menjaga kenyamanan saat beraktivitas di dunia maya.