Loading
Investor saham mengamati grafik bursa saham melalui layar monitor di Denpasar, Bali, Selasa (18/2/2025) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
DENPASAR,ARAHKITA.COM - Bali semakin menunjukkan geliat positif dalam dunia pasar modal. Pada Maret 2025, total nilai transaksi saham di provinsi ini mencapai Rp2,25 triliun, tumbuh 16,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp1,87 triliun.
Pertumbuhan ini tak lepas dari peningkatan jumlah investor yang signifikan, terutama dari kalangan muda. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, hingga Maret 2025 terdapat 151.096 investor saham yang tercatat melalui Single Investor Identification (SID). Jumlah ini naik 22,68 persen dibanding tahun sebelumnya.
Tak hanya saham, jumlah investor di instrumen keuangan lainnya seperti reksa dana dan surat berharga negara (SBN) juga mengalami kenaikan masing-masing sebesar 21,80 persen dan 18,11 persen.
Optimisme Investor dan Kemudahan Akses Pasar Modal
Nilai kepemilikan saham di Bali pun ikut melonjak, mencapai Rp5,36 triliun, tumbuh 12,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan kepercayaan masyarakat Bali terhadap prospek ekonomi nasional, meskipun masih dihadapkan pada dinamika ekonomi global.
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan investor adalah kemudahan berinvestasi, terutama bagi pemula. Saat ini, masyarakat sudah bisa mulai membeli saham hanya dengan modal Rp100 ribu saja. Hal ini membuka peluang besar bagi generasi muda untuk mengenal dan ikut ambil bagian dalam dunia pasar modal.
Peran Edukasi dan Inklusi Keuangan
Peningkatan jumlah investor juga didorong oleh gencarnya sosialisasi dan edukasi keuangan yang dilakukan OJK dan lembaga jasa keuangan lainnya. Melalui sinergi dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Bali, berbagai program literasi keuangan digelar, menyasar berbagai kalangan, termasuk pegawai negeri sipil (PNS) dan generasi muda.
Program-program ini bertujuan untuk memperkenalkan produk-produk keuangan seperti saham, obligasi, dan reksa dana, sekaligus mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi demi masa depan finansial yang lebih baik.
Tantangan: Literasi Pasar Modal Masih Rendah
Meski pertumbuhan positif terus terjadi, literasi keuangan di sektor pasar modal masih menjadi pekerjaan rumah besar. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025, indeks literasi pasar modal baru mencapai 17,78 persen, dan indeks inklusi hanya 1,34 persen.
Namun demikian, OJK tetap optimistis bahwa dengan edukasi yang konsisten dan dukungan dari berbagai pihak, jumlah investor dan nilai transaksi saham di Bali akan terus meningkat.
Sebagai informasi, sepanjang tahun 2024, nilai transaksi saham di Bali tercatat Rp3,9 triliun, tumbuh 71,16 persen dibandingkan 2023 yang mencapai Rp2,3 triliun. Angka ini menandakan adanya pergeseran minat masyarakat terhadap investasi jangka panjang yang lebih terstruktur sebagaimana dikutip dari Antara.