Loading
Arsip foto - Pekerja saat mengukur kadar air pada limbah kayu di Tempat Pengelolaan Sampah Setempat (TPSS) Sukma Jaya, Depok, Jawa Barat, Jumat (29/1/2021). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Produk biomassa asal Indonesia kembali menunjukkan taringnya di pasar global. Dalam gelaran Forum Bisnis di Osaka, Jepang, dua komoditas unggulan Indonesia—cangkang inti sawit (palm kernel shell/PKS) dan wood pellet (pelet kayu)—berhasil mencatatkan transaksi fantastis senilai Rp1,04 triliun.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Misi Dagang Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang berlangsung pekan lalu. Sejumlah perusahaan Jepang menyatakan komitmen untuk mengimpor 640 ribu ton biomassa dari Indonesia. Produk ini akan digunakan sebagai sumber energi alternatif guna mendukung transisi energi bersih di Negeri Sakura.
Jepang Butuh Energi Bersih, Indonesia Siap Suplai
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menjelaskan bahwa Jepang tengah menargetkan seluruh kendaraan penumpang barunya berbasis listrik pada tahun 2035. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen menuju net zero emission pada 2050.
“Industri otomotif Jepang dituntut beralih ke sumber energi terbarukan. Di sinilah peran penting biomassa Indonesia seperti PKS dan wood pellet,” ujar Fajarini dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (15/6/2025).
PKS, EFB (tandan kosong sawit), dan batang kelapa sawit menjadi produk turunan sawit yang sangat potensial sebagai energi terbarukan. Sementara wood pellet berasal dari limbah kayu yang juga rendah emisi karbon. Setiap ton PKS yang digunakan sebagai bahan bakar disebut mampu mengurangi emisi CO₂ hingga 0,94 ton.
Peluang Besar Ekspor Biomassa
Saat ini, konsumsi biomassa untuk energi di dalam negeri masih terbatas, sehingga ekspor menjadi opsi utama. Dari total produksi PKS nasional sekitar 14 juta ton per tahun, sekitar 35% diekspor, terutama ke Jepang.
Ekspor PKS Indonesia ke Jepang saat ini sudah mencapai 4,5 juta ton per tahun. Namun, kebutuhan biomassa Jepang diperkirakan akan terus meningkat hingga 7 juta ton per tahun pada 2025–2026. Ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pemasok utama.
Selain sebagai bahan bakar termal rendah karbon, PKS juga dimanfaatkan sebagai arang aktif berkinerja tinggi. Aplikasinya luas, mulai dari pemulihan pelarut kimia, penyaring udara, hingga pemurnian air.
Dorongan Sertifikasi dan Keberlanjutan
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Energi Biomassa Indonesia (Aprebi), Dikki Akhmar, menggarisbawahi pentingnya penguatan sertifikasi dan standar keberlanjutan. Ia mendorong pemerintah Jepang untuk menerima sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi produk PKS Indonesia.
Tak hanya itu, sistem Sertifikasi Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) juga didorong untuk disosialisasikan secara masif. SVLK menjadi jaminan legalitas dan keberlanjutan bagi produk biomassa berbasis kayu seperti wood pellet dan wood chip.
“Kesadaran akan keberlanjutan dan ekonomi hijau terus tumbuh. Inilah momen emas bagi Indonesia untuk menunjukkan kemampuan berinovasi dan menghadirkan produk energi terbarukan berkualitas dunia,” tutur Dikki.