Loading
Investasi bisnis Inggris turun 2,7 persen pada kuartal terakhir 2025. (Ilustrasi: AI Generated)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ekonomi Inggris hanya mencatat pertumbuhan 0,1 persen pada kuartal terakhir 2025, menandakan lemahnya momentum memasuki 2026. Data resmi dari Office for National Statistics menunjukkan laju ini sama dengan kuartal sebelumnya dan lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 0,2 persen.
Secara tahunan, ekonomi tumbuh 1,3 persen sepanjang 2025, naik tipis dari 1,1 persen pada 2024, namun masih di bawah proyeksi resmi 1,5 persen. Pertumbuhan bulanan Desember juga hanya 0,1 persen, melambat dari 0,2 persen pada November setelah revisi turun dari angka awal 0,3 persen.
Data tersebut, dilansir The Guardian, muncul saat Menteri Keuangan Rachel Reeves bersiap menyampaikan pidato kebijakan ekonomi dalam beberapa pekan ke depan. Ia diperkirakan kembali menegaskan strategi pertumbuhan pemerintah, termasuk dorongan pemanfaatan kecerdasan buatan dan rencana mempererat hubungan ekonomi dengan Uni Eropa.
Kinerja ekonomi yang lemah terjadi meski sektor produksi naik 1,2 persen. Sektor jasa yang mendominasi sekitar 80 persen ekonomi justru stagnan, sementara konstruksi menyusut 2,1 persen, menjadi performa terburuk dalam lebih dari empat tahun. Direktur statistik ekonomi ONS, Liz McKeown, mengatakan pertumbuhan tetap lambat karena sektor jasa tidak memberikan dorongan berarti.
Investasi bisnis turun 2,7 persen pada kuartal terakhir, sedangkan belanja konsumen hanya naik 0,2 persen. Kondisi ini memperkuat sinyal dari berbagai survei sebelumnya yang menunjukkan perusahaan menunda investasi dan rumah tangga menahan pengeluaran menjelang anggaran akhir November di tengah spekulasi kenaikan pajak.
Menurut Ruth Gregory dari Capital Economics, aktivitas sektor swasta masih terlihat lesu secara keseluruhan. Pada paruh pertama 2025 ekonomi sebenarnya sempat menunjukkan kinerja lebih baik dengan pertumbuhan 0,7 persen di kuartal pertama dan 0,3 persen di kuartal kedua.
Namun momentum melemah setelah serangan siber terhadap Jaguar Land Rover menekan produksi kendaraan pada kuartal ketiga. Ketidakpastian terkait kebijakan fiskal menjelang akhir tahun juga disebut ikut menahan aktivitas ekonomi.
Suren Thiru dari Institut Akuntan Publik Bersertifikat Inggris dan Wales menilai dunia usaha menghadapi kuartal yang sangat berat karena ketidakpastian anggaran dan kenaikan biaya membatasi rencana perdagangan serta investasi.
Meski demikian, survei Januari menunjukkan sentimen bisnis dan konsumen mulai membaik. Ekonom di National Institute of Economic and Social Research memperkirakan pertumbuhan dapat mencapai 0,4 persen pada kuartal pertama 2026, asalkan kebijakan pemerintah tidak kembali memicu kekhawatiran pelaku usaha.
Proyeksi resmi dari Office for Budget Responsibility memperkirakan ekonomi tumbuh 1,4 persen pada 2026 dan rata-rata 1,5 persen per tahun hingga 2030, sebagian karena produktivitas yang masih rendah. Sementara itu Bank of England mempertahankan suku bunga di level 3,75 persen, dengan harapan inflasi yang lebih rendah dapat membuka ruang pemulihan ekonomi.