G7 Bahas Stabilisasi Pasar Minyak Global di Tengah Konflik Iran dan Ancaman di Selat Hormuz


 G7 Bahas Stabilisasi Pasar Minyak Global di Tengah Konflik Iran dan Ancaman di Selat Hormuz Arsip - Para pemimpin negara-negara G7. (ANTARA/Anadolu/py)

TOKYO, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Para pemimpin negara-negara G7 dijadwalkan menggelar pertemuan daring pada Rabu untuk membahas langkah-langkah stabilisasi pasar minyak global menyusul konflik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi guna meredam lonjakan harga serta menjaga stabilitas pasokan energi dunia.

Pertemuan ini digelar hanya sehari setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan langkah yang cukup drastis: pelepasan cadangan minyak dalam jumlah yang berpotensi menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.

Jika disepakati, ini akan menjadi respons kolektif pertama yang dipimpin IEA sejak tahun 2022, ketika dunia menghadapi guncangan energi akibat invasi Rusia ke Ukraina.

Jepang Dorong Diplomasi dan Siap Lepas Cadangan Minyak

Dari Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi diperkirakan akan menekankan pentingnya upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Bagi Jepang, stabilitas kawasan tersebut sangat penting. Negara ini diketahui bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya.

Menjelang pertemuan G7, Takaichi menyampaikan kepada wartawan bahwa Jepang bahkan siap mengambil langkah lebih cepat.Pemerintah Jepang berencana mulai mengurangi cadangan minyak nasional paling cepat minggu depan, tanpa harus menunggu keputusan kolektif dari IEA.

Cadangan yang siap dilepas antara lain:

  • cadangan sektor swasta setara 15 hari konsumsi domestik
  • cadangan pemerintah setara sekitar satu bulan konsumsi

Hingga akhir Desember lalu, Jepang tercatat memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 254 hari kebutuhan domestik.

Cadangan tersebut terdiri dari:

  • 146 hari cadangan milik pemerintah
  • 101 hari milik sektor swasta

sisanya disimpan bersama negara-negara produsen minyak.

Ancaman Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasar

Situasi semakin memicu kekhawatiran setelah muncul laporan bahwa Iran mulai memasang ranjau laut di Selat Hormuz.Selat strategis ini merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati perairan sempit tersebut setiap hari.

Sejak konflik antara AS–Israel dan Iran meningkat pada akhir Februari, jalur tersebut dilaporkan praktis tertutup, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global.

Karena itu, para pemimpin G7 diperkirakan akan menegaskan pentingnya koordinasi erat antarnegara untuk menjaga stabilitas energi dunia.

G7 Siap Ambil Langkah Darurat Energi

Sebelum pertemuan para pemimpin, negara-negara G7 — Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat, serta Uni Eropa — juga telah menggelar pertemuan daring para menteri energi.

Dalam pertemuan tersebut, mereka menegaskan kesiapan untuk mengambil langkah-langkah darurat, termasuk melepaskan cadangan minyak strategis, guna menjaga pasokan energi global tetap stabil.

Menurut laporan Wall Street Journal, IEA bahkan telah mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.

Sebagai perbandingan, pelepasan cadangan terbesar sebelumnya terjadi pada 2022 ketika negara-negara anggota IEA bersama-sama melepas sekitar 182 juta barel minyak dalam dua tahap untuk meredam lonjakan harga akibat perang di Ukraina.

Saat ini, negara-negara anggota IEA diperkirakan memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik.Amerika Serikat dan Jepang saja menyimpan sekitar 700 juta barel cadangan minyak gabungan dilansir Antara.

Berdasarkan aturan IEA, setiap negara anggota wajib memiliki cadangan minyak setidaknya setara 90 hari impor bersih, sehingga mereka dapat merespons secara kolektif apabila terjadi gangguan serius terhadap pasokan minyak dunia.

Dengan ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah, langkah koordinasi energi global seperti ini dinilai semakin penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dunia.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru