Harga BBM Tak Naik, Ekonom: Jaga Daya Beli dan Redam Gejolak Sosial


 Harga BBM Tak Naik, Ekonom: Jaga Daya Beli dan Redam Gejolak Sosial Ilustrasi - Harga BBM tidak naik. (telusur.co.id)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Di tengah tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya reda, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM menjadi angin segar bagi masyarakat. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi daya beli publik.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menilai langkah tersebut efektif menahan laju inflasi—terutama pada sektor yang paling sensitif seperti kebutuhan pokok dan transportasi.

Ketika harga energi stabil, efek berantainya sangat terasa. Harga barang tidak melonjak drastis, ongkos distribusi tetap terkendali, dan masyarakat masih memiliki ruang untuk berbelanja. Inilah yang membuat roda ekonomi tetap bergerak.

“Daya beli masyarakat bisa terjaga karena tekanan inflasi relatif tertahan, terutama untuk kebutuhan pokok dan transportasi,” ujarnya.

Efek Domino: Ekonomi Stabil, Masyarakat Lebih Tenang

Tidak hanya berdampak pada ekonomi, kebijakan ini juga punya efek sosial yang signifikan. Tanpa kenaikan harga BBM, potensi kepanikan publik bisa ditekan.

Kita tahu, kenaikan BBM seringkali memicu reaksi berantai—mulai dari lonjakan harga, keresahan masyarakat, hingga potensi gejolak sosial. Dengan harga yang tetap, situasi tersebut bisa dihindari.

Stabilitas ini penting, terutama di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.

Namun, Ada Catatan Penting

Meski membawa dampak positif, kebijakan ini bukan tanpa risiko. Dalam jangka panjang, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi meningkat, terutama karena subsidi energi tetap harus ditanggung pemerintah.

Selain itu, distribusi subsidi juga masih menjadi pekerjaan rumah. Saat ini, kelompok masyarakat mampu yang memiliki kendaraan pribadi justru berpotensi menikmati lebih banyak subsidi dibandingkan masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Di sisi lain, harga BBM yang relatif murah juga bisa mendorong konsumsi energi fosil berlebihan—yang tentu bertentangan dengan upaya efisiensi dan keberlanjutan energi.

Solusi: Subsidi Harus Lebih Tepat Sasaran

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Indef mendorong pemerintah melakukan pembenahan skema subsidi. Salah satu opsi yang bisa diterapkan adalah pembatasan subsidi berdasarkan kapasitas mesin kendaraan atau memprioritaskan transportasi publik.Langkah ini diharapkan mampu membuat subsidi lebih adil sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal negara.

Pemerintah Pastikan Harga BBM Tetap Stabil

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi.

Keputusan ini diambil setelah koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PT Pertamina, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah juga memastikan pasokan BBM nasional dalam kondisi aman. Masyarakat pun diminta tidak panik terhadap isu kenaikan harga yang sempat beredar.

“Kami menjamin ketersediaan BBM dan memastikan tidak ada penyesuaian harga. Masyarakat tidak perlu resah,” tegas Prasetyo dikutip Antara.

Stabil Hari Ini, Perlu Strategi untuk Masa Depan

Menahan harga BBM memang menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas jangka pendek. Namun, ke depan, pemerintah perlu memastikan kebijakan subsidi lebih tepat sasaran agar tidak membebani keuangan negara dan tetap mendukung transisi energi yang berkelanjutan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru