Loading
Harga bensin yang ditampilkan di sebuah SPBU di New York, Amerika Serikat, Selasa (31/3/2026). ANTARA/Xinhua/Zhang Fengguo/aa.
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan. Penjualan ritel yang sempat naik pada Februari 2026 kini diperkirakan akan melambat, seiring dampak perang Iran yang kian meluas.
Data terbaru dari Biro Sensus AS mencatat, penjualan ritel naik sebesar 0,6 persen dibanding bulan sebelumnya. Sekilas terlihat positif, namun angka ini belum mencerminkan situasi terkini—karena laporan tersebut disusun sebelum konflik dengan Iran memanas.
Kini, memasuki pekan kelima perang, para ekonom mulai mengkhawatirkan dampak lanjutan terhadap daya beli masyarakat.
Harga Minyak Naik, Inflasi Sulit Dihindari
Konflik di kawasan Timur Tengah telah mengganggu jalur vital perdagangan global, terutama di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Akibatnya, harga minyak melonjak tajam.
Ekonom memperkirakan harga minyak bisa bertahan di kisaran 100 dolar AS per barel dalam waktu cukup lama. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi hingga mendekati, bahkan melampaui, 4 persen.
Dean Baker, salah satu ekonom dari Center for Economic and Policy Research, menilai kondisi ini hampir tak terelakkan.
“Sulit menghindari inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan penjualan yang lebih lambat. Pertanyaannya hanya seberapa besar dampaknya,” ujarnya.
Kenaikan harga energi ini langsung terasa di masyarakat. Harga bensin nasional di AS bahkan telah menembus 4 dolar AS per galon—untuk pertama kalinya sejak 2022.
Daya Beli Tertekan, Konsumsi Terancam Turun
Kenaikan harga energi biasanya diikuti dengan naiknya harga kebutuhan lain. Artinya, masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk kebutuhan dasar—dan pada akhirnya mengurangi belanja konsumtif.
Inilah yang membuat sektor ritel menjadi salah satu yang paling rentan.
Ketika biaya hidup meningkat, masyarakat cenderung menahan pengeluaran. Dampaknya, pertumbuhan penjualan ritel bisa melambat, bahkan berpotensi turun dalam beberapa bulan ke depan.
Efek Berantai: Dari Minyak hingga Pangan
Dampak perang Iran tidak berhenti pada energi. Gangguan distribusi global juga berpotensi menyebabkan kelangkaan pasokan lain, termasuk pupuk.
Jika kondisi ini berlanjut, produksi pertanian global bisa ikut terganggu—yang pada akhirnya berimbas pada harga pangan dunia.
“Jika Selat Hormuz tidak segera kembali normal, kita bisa melihat dampak yang lebih luas, termasuk pada hasil panen global,” tambah Baker dikutip dari Antara.
Ketidakpastian Politik Tambah Tekanan
Di tengah situasi ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa konflik akan segera berakhir. Namun, para analis menilai penyelesaian konflik tidak semudah yang dibayangkan.
Meski ada klaim pembicaraan dengan Iran, pihak Teheran membantah adanya negosiasi tersebut.
Ketidakpastian ini membuat pasar tetap waspada—dan ekonomi global berada dalam posisi rentan.
Kepercayaan Publik Mulai Goyah
Sentimen masyarakat AS terhadap kondisi ekonomi juga mulai menurun. Sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga warga menilai kebijakan pemerintah saat ini justru memperburuk kondisi ekonomi.
Jika kepercayaan publik terus melemah, dampaknya bisa semakin besar—terutama terhadap konsumsi domestik yang menjadi tulang punggung ekonomi AS.
Kenaikan penjualan ritel pada Februari mungkin menjadi kabar baik sesaat. Namun, bayang-bayang perang Iran dan lonjakan harga minyak kini menjadi tantangan nyata.
Jika konflik berlarut-larut, bukan hanya sektor ritel yang terdampak—melainkan keseluruhan stabilitas ekonomi global.