Loading
Ilustrasi, ANTARA/HO- (ADB)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kabar kurang menggembirakan datang dari kawasan Asia dan Pasifik. Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi di wilayah ini akan melambat dalam dua tahun ke depan.
Dalam laporan terbarunya, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia dan Pasifik hanya akan mencapai 5,1 persen pada 2026 dan 2027, turun dari 5,4 persen di tahun 2025.
Ketidakpastian Global Jadi Faktor Utama
Kepala Ekonom ADB, Albert Park, menjelaskan bahwa perlambatan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah dan dinamika perdagangan internasional yang belum stabil.
Menurutnya, proyeksi ini disusun dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, bahkan dengan asumsi bahwa konflik bisa mereda lebih cepat. Namun, perkembangan terbaru justru menunjukkan potensi gangguan yang lebih panjang dan kompleks.
Inflasi Ikut Naik, Tekanan Ekonomi Bertambah
Tak hanya pertumbuhan yang melambat, tekanan inflasi juga diperkirakan meningkat. ADB memproyeksikan inflasi regional akan naik menjadi:
Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun sebelumnya yang berada di level 3 persen.
Kenaikan ini tidak lepas dari potensi lonjakan harga energi dan pangan, terutama jika konflik global terus berlanjut.
Ekonomi Masih Tangguh, Tapi Waspada
Meski menghadapi tekanan, kawasan Asia dan Pasifik dinilai masih cukup tangguh. Hal ini ditopang oleh beberapa faktor, seperti:
Namun, ketahanan ini tetap diuji oleh berbagai risiko eksternal yang bisa sewaktu-waktu meningkat.
Dampak Konflik Timur Tengah Sangat Besar
ADB menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah sebagai risiko terbesar bagi ekonomi kawasan. Dampaknya bisa meluas melalui berbagai jalur, seperti:
Selain itu, potensi gangguan di pasar pupuk juga bisa memperparah tekanan harga pangan dunia.
Proyeksi Negara Besar: China dan India
Beberapa negara besar di kawasan juga diprediksi mengalami perlambatan:
Sementara itu, negara-negara di kawasan Pasifik juga mengalami penurunan pertumbuhan cukup signifikan.
Harga Energi Masih Jadi Ancaman
Harga minyak diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat. Namun, jika ketegangan geopolitik mereda, harga energi berpeluang turun secara bertahap.
Meski begitu, lonjakan harga energi yang terjadi belakangan ini sudah memberi dampak nyata terhadap inflasi global, terutama pada sektor pangan dikutip Antara.
Perlu Kebijakan yang Tepat Sasaran
Dalam situasi ini, pemerintah di berbagai negara di Asia dan Pasifik diharapkan mampu mengambil langkah strategis, terutama melalui kebijakan makroekonomi yang tepat.
Fokus utamanya adalah menjaga pertumbuhan tetap stabil sekaligus melindungi kelompok masyarakat rentan dari tekanan ekonomi yang semakin berat.