Belanja Pemerintah Jadi Penopang Ekonomi Awal 2026, Ekonom Soroti Efektivitasnya


 Belanja Pemerintah Jadi Penopang Ekonomi Awal 2026, Ekonom Soroti Efektivitasnya Tangkapan layar - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman memaparkan materi dalam diskusi publik yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Kamis (8/1/2026). ANTARA/Uyu Septiyati Liman.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Percepatan belanja pemerintah sejak awal tahun dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan terhadap daya beli masyarakat dan perlambatan sektor manufaktur.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengatakan berbagai program pemerintah seperti bantuan sosial, proyek pembangunan, hingga program prioritas nasional berhasil menopang permintaan domestik sepanjang triwulan I-2026.

Menurut Rizal, peran belanja negara menjadi semakin penting ketika konsumsi kelas menengah belum sepenuhnya pulih dan aktivitas industri mengalami perlambatan.

“Belanja pemerintah pada triwulan I menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi di tengah lemahnya konsumsi kelas menengah dan perlambatan manufaktur,” ujarnya di Jakarta, Jumat (15/5/2026).

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan belanja pemerintah tumbuh sebesar 21,81 persen pada triwulan I-2026. Angka tersebut memberi kontribusi sekitar 1,26 persen terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB), sementara pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai 5,61 persen.

Meski demikian, Rizal menilai efektivitas belanja pemerintah masih perlu ditingkatkan. Ia melihat sebagian besar anggaran masih terserap untuk belanja rutin sehingga dampaknya terhadap ekspansi ekonomi jangka panjang belum optimal.

Di sisi lain, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur sempat bergerak mendekati zona stagnan. Kondisi itu menunjukkan sektor industri masih menghadapi tekanan, sementara daya beli masyarakat juga membutuhkan dorongan tambahan.

Karena itu, Rizal menilai kebijakan fiskal saat ini lebih berfungsi sebagai “peredam” perlambatan ekonomi dibanding menjadi motor penggerak ekspansi baru.

“Artinya, fiskal saat ini lebih berfungsi sebagai bantalan perlambatan ekonomi dibanding pendorong ekspansi baru,” katanya.

Untuk beberapa bulan ke depan, ia memperkirakan dampak belanja pemerintah masih akan terasa dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, ruang percepatan dinilai mulai terbatas apabila sektor swasta belum kembali bergerak kuat.

Strategi front loading atau percepatan penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada awal tahun dianggap cukup berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen pada triwulan pertama.

Namun, keberlanjutan dampaknya sangat ditentukan oleh kualitas belanja yang dilakukan pemerintah.

Rizal mengingatkan, jika belanja negara hanya mendorong konsumsi jangka pendek tanpa memperkuat investasi, industri, dan penciptaan lapangan kerja, maka efek pengganda terhadap ekonomi akan cepat melemah.

Karena itu, pemerintah didorong tidak hanya fokus pada percepatan serapan anggaran, tetapi juga memastikan anggaran diarahkan ke sektor-sektor produktif yang memiliki multiplier effect tinggi.

Belanja pemerintah, lanjutnya, perlu mampu menarik investasi domestik sekaligus memperkuat sektor industri agar pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026 tidak mengalami perlambatan yang terlalu dalam.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru