Indonesia Peringkat 2 Negara Paling Tahan Guncangan Energi Global Versi JP Morgan


 Indonesia Peringkat 2 Negara Paling Tahan Guncangan Energi Global Versi JP Morgan Menteri Koordinator Airlangga Hartarto saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (5/2/2026). (ANTARA/Bayu Saputra

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah ketidakpastian energi global, Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Berdasarkan laporan terbaru dari JP Morgan Asset Management, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara paling tahan terhadap guncangan energi dunia pada 2026.

Laporan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis 21 Maret 2026 itu menilai ketahanan energi dari 52 negara yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut capaian ini sebagai bukti bahwa kebijakan energi Indonesia berada di jalur yang tepat.

Menurutnya, hasil tersebut bukan sekadar pengakuan global, tetapi juga validasi atas strategi jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan energi domestik dan percepatan transisi energi bersih.

“Ini menunjukkan bahwa arah kebijakan kita sudah tepat, terutama dalam menghadapi dinamika geopolitik dan fluktuasi harga energi dunia,” ujar Airlangga.

Energi Domestik Jadi Kunci Ketahanan

Keunggulan Indonesia dalam laporan ini tidak lepas dari kuatnya produksi energi dalam negeri. Indonesia mencatat insulation factor sebesar 77 persen, hanya sedikit di bawah Afrika Selatan (79 persen), dan berada di atas Tiongkok (76 persen) serta Amerika Serikat (70 persen).

Angka tersebut mencerminkan kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan energi dari sumber domestik. Batu bara masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi sekitar 48 persen, disusul gas bumi 22 persen, dan energi terbarukan sekitar 7 persen.

Selain itu, Indonesia juga dinilai memiliki risiko rendah terhadap gangguan distribusi energi global. Salah satu indikatornya adalah ketergantungan impor energi melalui Selat Hormuz yang hanya sekitar 1 persen dari total konsumsi nasional—jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Dampak Positif untuk Ekonomi Nasional

Posisi ini memberi keuntungan strategis bagi Indonesia. Ketahanan energi yang kuat membantu menjaga stabilitas fiskal, terutama dalam pengelolaan APBN 2026.

Di sisi lain, kondisi ini juga berperan dalam melindungi daya beli masyarakat dan menjaga aktivitas dunia usaha tetap berjalan di tengah gejolak global dikutip Antara.

Namun demikian, pemerintah tidak ingin terlena. Airlangga menegaskan bahwa berbagai langkah penguatan tetap akan dilakukan.

Fokus: Transisi Energi dan Diversifikasi

Ke depan, pemerintah akan terus mendorong sejumlah strategi utama, seperti:

  • Meningkatkan produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca energi
  • Mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT)
  • Memperluas penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai
  • Mendiversifikasi sumber pasokan dan jalur distribusi energi

Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya menjaga ketahanan energi, tetapi juga memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Negara Maju Justru Lebih Rentan

Menariknya, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa sejumlah negara maju justru lebih rentan terhadap krisis energi global. Negara seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda dinilai memiliki ketergantungan tinggi pada impor energi, sehingga lebih mudah terdampak gejolak global.

Sebaliknya, Indonesia bersama negara seperti China, India, Vietnam, dan Filipina dinilai diuntungkan oleh ketersediaan sumber energi domestik, terutama batu bara.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru