Loading
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia dalam konferensi pers percepatan program strategis pemerintah di Auditorium Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (ANTARA/HO-Badan Komunikasi Pemerintah)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah optimistis implementasi program biodiesel B50 yang akan dimulai pada 1 Juli 2026 mampu memberikan dampak besar bagi perekonomian nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebijakan tersebut dapat menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun sepanjang tahun ini.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa penerapan B50 akan mengurangi kebutuhan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Berkurangnya konsumsi solar impor secara langsung akan menekan pengeluaran devisa negara.
“Pada 2026, melalui implementasi B50, diharapkan Indonesia dapat menghemat devisa hingga Rp157,28 triliun,” ujar Anggia dalam konferensi pers percepatan program strategis pemerintah di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Penghematan Devisa Naik Hampir 18 Persen
Nilai penghematan yang diproyeksikan tahun ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya saat pemerintah masih menerapkan mandatori B40.Pada 2025, kebijakan B40 berhasil menghemat devisa sekitar Rp133,3 triliun. Dengan target penghematan mencapai Rp157,28 triliun pada 2026, terjadi peningkatan sekitar 17,9 persen.
Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besarnya kontribusi biodiesel berbasis sawit dalam mengurangi kebutuhan impor energi nasional.
Dorong Nilai Tambah Sawit dan Serap Jutaan Pekerja
Selain menghemat devisa, program B50 juga diperkirakan memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi sektor perkebunan.
Kementerian ESDM mencatat implementasi B50 berpotensi menciptakan nilai tambah crude palm oil (CPO) sebesar Rp24,68 triliun. Program ini juga diproyeksikan mampu menyerap sekitar 2,21 juta tenaga kerja di berbagai sektor yang terkait dengan industri sawit dan biodiesel.
“Implementasi B50 akan meningkatkan nilai tambah sawit Indonesia sehingga manfaat ekonominya semakin dirasakan oleh para petani sawit,” kata Anggia.
Dengan meningkatnya permintaan bahan baku biodiesel dalam negeri, rantai ekonomi sawit diperkirakan semakin kuat dan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani.
Turunkan Emisi dan Perkuat Ketahanan Energi
Tak hanya berdampak pada ekonomi, program B50 juga mendukung agenda transisi energi nasional. Pemerintah memperkirakan kebijakan ini dapat menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dunia, pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk terus mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus mempercepat penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Uji Teknis Terus Berjalan
Untuk memastikan implementasi berjalan lancar, pemerintah telah melakukan berbagai uji teknis sejak tahun lalu.
Uji teknis B50 untuk sektor otomotif dimulai sejak 2 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada Juni 2026. Sementara itu, pengujian pada alat dan mesin pertanian (alsintan) serta alat berat pertambangan masih berlangsung dan ditargetkan rampung pada Semester II 2026.
Selain itu, uji teknis juga masih dilakukan pada sektor perkeretaapian dan pembangkit listrik.
Meski sejumlah pengujian belum sepenuhnya selesai, pemerintah memastikan implementasi B50 akan tetap dilakukan secara serentak mulai 1 Juli 2026.
“Walaupun di beberapa sektor tahap uji teknisnya masih berjalan, kami memastikan implementasi B50 akan dilakukan secara serentak,” tegas Anggia dikutip Antara.
Dengan berbagai manfaat yang ditawarkan, mulai dari penghematan devisa, peningkatan nilai tambah sawit, penciptaan lapangan kerja hingga pengurangan emisi, program B50 menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.