Arsip foto - Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan pasar saham Indonesia masih dibayangi sikap hati-hati para investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/6/2026), seiring pelaku pasar memilih menunggu sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah investasi dalam beberapa hari ke depan.
IHSG ditutup turun 34,23 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.220,74. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan justru mampu mencatat kenaikan tipis 0,09 persen ke level 625,23.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG masih cenderung variatif karena investor sedang mencermati sejumlah keputusan penting dari dalam dan luar negeri.
"Investor memilih wait and see menjelang berbagai agenda pasar yang dinilai cukup krusial," ujarnya dalam kajian pasar di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat yang akan menentukan arah suku bunga acuan The Fed. Selain itu, pelaku pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan pada Kamis (18/6).
Berdasarkan konsensus pasar, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Sementara Bank Indonesia diproyeksikan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Selain faktor suku bunga, investor juga menantikan sejumlah agenda terkait indeks global yang kerap menjadi acuan arus investasi asing. Di antaranya MSCI Global Market Accessibility Review dan rebalancing indeks FTSE yang dijadwalkan pada Jumat (19/6), serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.
Sentimen tersebut turut menekan nilai tukar rupiah yang ditutup melemah 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar Amerika Serikat di pasar spot.
Sempat Menguat, IHSG Berbalik Turun
Pada awal perdagangan, IHSG sempat bergerak di zona hijau dan bertahan positif hingga akhir sesi pertama. Namun memasuki sesi kedua, tekanan jual meningkat sehingga indeks berbalik ke wilayah negatif hingga penutupan.
Dari sisi sektoral, hanya dua sektor yang berhasil mencatatkan penguatan. Sektor barang konsumen primer memimpin dengan kenaikan 0,58 persen, disusul sektor infrastruktur yang naik 0,32 persen.
Sebaliknya, sembilan sektor mengalami pelemahan. Sektor industri menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,51 persen. Berikutnya sektor transportasi dan logistik turun 2,03 persen, sedangkan sektor energi terkoreksi 2,01 persen.
Saham Penggerak Pasar
Sejumlah saham yang mencatat kenaikan terbesar pada perdagangan hari ini antara lain BCIC, DEFI, ESIP, RONY, dan KONY.
Sementara saham yang mengalami penurunan terdalam adalah GHON, BINA, NZIA, BREN, dan POLU.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 2,31 juta kali. Total volume perdagangan tercatat sebanyak 31,47 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp24,67 triliun.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 306 saham menguat, 409 saham melemah, dan 244 saham bergerak stagnan.
Bursa Asia Bergerak Beragam
Perdagangan di kawasan Asia juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Nikkei Jepang menguat 0,83 persen, indeks Shanghai naik 0,40 persen, dan indeks Strait Times Singapura bertambah 1,16 persen.
Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,74 persen seiring investor regional juga menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global dikutip Antara.
Dengan sejumlah agenda penting yang akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan, pasar diperkirakan masih bergerak hati-hati. Investor akan mencermati sinyal dari The Fed, Bank Indonesia, serta hasil evaluasi MSCI yang berpotensi memengaruhi arus modal dan sentimen pasar keuangan Indonesia.