Rupiah Melemah ke Rp17.984 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Kembali Menekan Pasar


 Rupiah Melemah ke Rp17.984 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Kembali Menekan Pasar Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.984 per dolar AS pada Rabu pagi. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (8/7/2026) pagi. Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami pelemahan. Di sisi lain, penguatan cadangan devisa Indonesia sebenarnya memberikan bantalan positif bagi stabilitas ekonomi nasional, meski belum cukup mengimbangi sentimen global.

Rupiah pada pembukaan perdagangan tercatat melemah 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.984 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.980 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih didorong oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, sentimen negatif muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan besar ke Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Mengutip laporan Sputnik, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.

Sebelumnya, pada Selasa (7/7), media nasional Iran IRIB melaporkan kapal Qatar Al-Rekayyat yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi sasaran serangan setelah sejumlah peringatan disampaikan.

Ketegangan di kawasan yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia itu meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan global.

Cadangan Devisa Indonesia Naik

Di tengah tekanan eksternal tersebut, Indonesia mendapat kabar positif dari sisi fundamental ekonomi.

Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS, meningkat sekitar 700 juta dolar AS dibandingkan akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.

Kenaikan cadangan devisa terutama didorong oleh penerimaan pajak dan sektor jasa.

Bank Indonesia menjelaskan, peningkatan tersebut terjadi meski pemerintah tetap melakukan pembayaran utang luar negeri dan BI menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar global.

Posisi cadangan devisa saat ini dinilai sangat memadai karena setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

Investor Menunggu Data Kepercayaan Konsumen

Selain mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, pelaku pasar juga menantikan rilis Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia.

Lukman Leong mengatakan pasar memperkirakan indeks tersebut akan meningkat menjadi 125, sehingga berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan rupiah.

Untuk perdagangan hari ini, ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Meski fundamental domestik masih relatif kuat, arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan tetap sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik global, khususnya situasi di Timur Tengah yang masih terus memanas.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru