Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Ketidakpastian global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpadu dengan sentimen domestik yang belum sepenuhnya pulih membuat investor cenderung bersikap hati-hati.
Di sisi lain, keputusan S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan (watchlist) turut menambah tekanan terhadap pasar modal nasional. Kombinasi faktor eksternal dan internal tersebut membuat peluang koreksi IHSG masih terbuka dalam jangka pendek.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun 7,60 poin atau 0,13 persen ke level 5.865,77. Sementara indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan melemah 1,77 poin atau 0,30 persen ke posisi 581,11.
Baca juga:
IHSG Ditutup Menguat Jelang Akhir Pekan, Sentimen Damai AS-Iran dan Proyeksi IMF Jadi PenopangKepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.800 hingga 5.745.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Baca juga:
IHSG Ditutup Menguat Jelang Akhir Pekan, Sentimen Damai AS-Iran dan Proyeksi IMF Jadi PenopangDari pasar global, perhatian investor tertuju pada eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir, diikuti serangan militer terhadap Iran dan pencabutan izin yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak mentah.
Trump juga mengancam akan melanjutkan serangan serta memberlakukan kembali blokade angkatan laut AS sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Situasi tersebut langsung mendorong kenaikan harga minyak dunia karena muncul kekhawatiran terganggunya pasokan energi global. Sentimen ini ikut meningkatkan sikap risk-off di pasar keuangan dunia.
Risalah The Fed Tambah Ketidakpastian
Investor juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (FOMC Minutes) yang memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai arah inflasi Amerika Serikat.
Sebagian pejabat The Fed meyakini inflasi akan kembali menuju target 2 persen. Namun sebagian lainnya menilai tekanan inflasi masih berpotensi bertahan akibat tingginya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI), konflik Timur Tengah, hingga dampak kebijakan tarif.
Di tengah kondisi tersebut, harga emas spot justru melemah setelah risalah The Fed dirilis, sementara kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.
Status Indonesia Jadi Perhatian Investor Asing
Dari dalam negeri, sentimen datang dari keputusan S&P Dow Jones Indices yang menempatkan Indonesia dalam status pemantauan, sehingga berpotensi mengalami penurunan klasifikasi dari emerging market menjadi frontier market.
Menindaklanjuti keputusan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana melakukan pertemuan dengan S&P Dow Jones Indices untuk membahas evaluasi tersebut.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan tetap optimistis melalui pembentukan Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII) yang ditargetkan mampu menarik dana investor asing sebesar Rp300 triliun hingga Rp500 triliun.
Namun, meningkatnya kehati-hatian sejumlah lembaga internasional terhadap pasar modal Indonesia dinilai telah memicu arus keluar modal asing (capital outflow) karena menurunnya kepercayaan investor.
Kepercayaan Konsumen Melemah
Tekanan juga datang dari data domestik. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen turun menjadi 117,8 pada Juni 2026 dari 120,9 pada Mei 2026, menjadi level terendah sejak September 2025.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun menjadi 109,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen melemah menjadi 126,4.
Meski demikian, seluruh indikator tersebut masih berada di atas level 100, yang berarti optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih terjaga. Investor selanjutnya akan mencermati data penjualan ritel dan penjualan sepeda motor sebagai petunjuk kekuatan konsumsi domestik.
Bursa Global Bergerak Beragam
Pada perdagangan Rabu (8/7), mayoritas bursa Eropa ditutup di zona merah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,79 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,66 persen, DAX Jerman terkoreksi 2,23 persen, sedangkan CAC 40 Prancis turun 2,18 persen.
Di Wall Street, Dow Jones melemah 1,09 persen dan S&P 500 turun 0,28 persen. Sebaliknya, Nasdaq Composite masih mampu menguat 0,27 persen berkat dukungan saham-saham teknologi dikutip Antara.
Sementara perdagangan Asia pada Kamis pagi bergerak bervariasi. Indeks Nikkei dan Kospi menguat, Strait Times juga berada di zona hijau, sedangkan Shanghai Composite masih melemah.