Jumat, 18 September 2026

Ekspor Indonesia Tembus US$140,81 Miliar pada Semester I 2026, Industri Pengolahan Jadi Motor Pertumbuhan


 Ekspor Indonesia Tembus US$140,81 Miliar pada Semester I 2026, Industri Pengolahan Jadi Motor Pertumbuhan Foto udara truk mengangkut peti kemas melintas di Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (2/7/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari hingga Mei 2026 mengalami surplus 4,03 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor 115,36 miliar dolar AS dan impor Rp111,33 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada semester pertama 2026 menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nasional sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, atau meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan ekspor tersebut terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar dengan andil 6,18 persen.

"Sepanjang periode Januari-Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$140,81 miliar atau meningkat 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2025," ujar Ateng di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Industri Pengolahan dan Komoditas Andalan Dorong Ekspor

Selain industri pengolahan, sejumlah komoditas unggulan juga menjadi penopang utama ekspor nonmigas Indonesia. Produk minyak sawit mentah (CPO) beserta turunannya masih menjadi penyumbang terbesar dengan pangsa 9,12 persen dari total ekspor nonmigas.

Di posisi berikutnya terdapat batu bara yang menyumbang 8,95 persen, menunjukkan bahwa komoditas berbasis sumber daya alam masih menjadi tulang punggung perdagangan Indonesia di pasar internasional.

China Tetap Menjadi Pasar Terbesar

Dari sisi tujuan ekspor, China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia. Sepanjang Januari-Juni 2026, ekspor ke Negeri Tirai Bambu mencapai US$34,56 miliar, atau sekitar 25,58 persen dari total ekspor nasional.

Komoditas yang paling banyak dikirim ke China meliputi:

  • Besi dan baja

  • Nikel dan produk turunannya

  • Bahan bakar mineral

Sementara itu, Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan nilai ekspor nonmigas mencapai US$15,82 miliar atau sekitar 11,76 persen.

Produk Indonesia yang paling diminati pasar AS antara lain:

  • Mesin dan perlengkapan elektrik

  • Alas kaki

  • Pakaian beserta aksesorinya

Di posisi ketiga terdapat India dengan nilai ekspor US$9,25 miliar atau sekitar 6,87 persen dari total ekspor nonmigas. Produk unggulan yang diekspor ke India meliputi bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan maupun nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik.

Impor Tumbuh Lebih Tinggi

Di sisi lain, nilai impor Indonesia selama Januari-Juni 2026 tercatat mencapai US$137,24 miliar, meningkat 18,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut BPS, kenaikan impor terutama dipicu oleh meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang penolong, yang menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan impor dengan andil 13,15 persen.

Kondisi ini mencerminkan masih tingginya aktivitas industri dalam negeri yang membutuhkan pasokan bahan baku untuk proses produksi dikutip Antara.

Semester I Masih Surplus, Namun Juni Mengalami Defisit

Meski impor tumbuh lebih cepat dibanding ekspor, secara kumulatif Indonesia masih berhasil membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,58 miliar pada semester pertama 2026.

Namun, jika dilihat secara bulanan, kondisi berbeda terjadi pada Juni 2026. Pada bulan tersebut neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$450 juta.

Nilai ekspor Juni 2026 tercatat sebesar US$25,46 miliar, sementara nilai impor mencapai US$25,91 miliar, sehingga terjadi selisih yang menyebabkan defisit perdagangan pada bulan tersebut.

Meski demikian, capaian surplus sepanjang semester pertama menunjukkan bahwa kinerja perdagangan Indonesia masih relatif solid di tengah dinamika ekonomi dan perdagangan global yang terus berubah.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru