Executive Vice President of Research and Chief Policy Officer US-ASEAN Business Council (USABC) Marc Mealy menjawab pertanyaan wartawan, di Jakarta, Rabu (16/9/2026). ANTARA/Shofi Ayudiana
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) dinilai belum menjadi faktor utama yang memengaruhi minat perusahaan Amerika Serikat (AS) untuk berinvestasi di Indonesia.
US-ASEAN Business Council (USABC) menilai pergantian pejabat di tingkat kementerian merupakan hal yang dapat dipahami oleh investor asing. Yang lebih menjadi perhatian adalah apakah pergantian tersebut diikuti perubahan besar dalam arah dan kebijakan pemerintah.
Executive Vice President of Research and Chief Policy Officer USABC Marc Mealy mengatakan, investor korporasi yang melakukan investasi langsung umumnya sudah memahami bahwa pergantian pejabat pemerintahan dapat terjadi.
“Secara umum, bagi sebagian besar investor korporasi yang melakukan investasi langsung asing, kami memahami bahwa bisa terjadi pergantian pejabat di tingkat menteri,” kata Mealy di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Mealy ketika menanggapi pergantian Menteri Keuangan yang terjadi beberapa kali dalam sekitar dua tahun terakhir.
Investor Lebih Perhatikan Kepastian Kebijakan
Menurut Mealy, pergantian menteri baru menjadi perhatian investor apabila membawa perubahan signifikan terhadap kebijakan pemerintah.
Dengan kata lain, perubahan sosok pejabat tidak otomatis membuat perusahaan AS mengubah rencana investasinya di Indonesia. Investor lebih mempertimbangkan kesinambungan kebijakan dan kepastian dalam menjalankan bisnis.
“Selama itu tidak berarti ada perubahan besar dalam kebijakan, hal tersebut tidak berarti kami tidak lagi ingin berinvestasi hanya karena menteri keuangan berganti,” ujarnya.
Mealy mengakui ketidakpastian kebijakan dapat menjadi salah satu pertimbangan investor asing. Namun, menurut dia, pergantian pejabat secara langsung bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan investasi perusahaan.
Investasi Perusahaan AS Capai Rp259,9 Triliun
Di kesempatan yang sama, USABC meluncurkan laporan Bisnis AS untuk Indonesia (BISA) 2026. Laporan tersebut menggambarkan kontribusi perusahaan-perusahaan AS terhadap investasi dan aktivitas ekonomi di Indonesia.
Berdasarkan data yang disampaikan USABC, realisasi investasi perusahaan AS di Indonesia sepanjang 2020 hingga semester I-2025 mencapai US$14,85 miliar, atau sekitar Rp259,9 triliun.
Angka tersebut juga sejalan dengan data investasi berbasis BKPM yang sebelumnya mencatat AS sebagai salah satu sumber investasi asing utama di Indonesia pada periode tersebut.
Sementara itu, komitmen investasi perusahaan AS di Indonesia sepanjang 2020 hingga Januari 2026 tercatat sekitar US$22,84 miliar, setara dengan sekitar Rp399,7 triliun.
Laporan BISA sebelumnya yang diterbitkan USABC juga menunjukkan besarnya keterlibatan perusahaan AS dalam berbagai sektor di Indonesia, termasuk teknologi, energi, kesehatan, pertanian, pendidikan, dan keuangan.
Kepastian Kebijakan Jadi Perhatian Investor
Pandangan USABC tersebut menunjukkan bahwa kesinambungan kebijakan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dunia usaha dalam melihat prospek investasi Indonesia.
Bagi investor, pergantian pejabat dapat menjadi bagian dari dinamika pemerintahan. Namun, keberlanjutan regulasi, kepastian usaha, serta konsistensi kebijakan menjadi faktor yang lebih relevan dalam menentukan rencana investasi jangka panjang.
USABC sendiri merupakan organisasi bisnis yang mewakili kepentingan perusahaan-perusahaan yang beroperasi dan memiliki kepentingan bisnis di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.
Dengan nilai investasi yang telah terealisasi maupun komitmen yang tercatat, hubungan bisnis Indonesia dan AS masih menjadi bagian penting dalam kerja sama ekonomi kedua negara.