Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia Akhmad Ma’ruf Maulana (ANTARA/HO-HKI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia merumuskan sejumlah langkah strategis untuk mempercepat realisasi investasi nasional sekaligus meningkatkan daya saing kawasan industri Indonesia di tengah persaingan ekonomi global yang semakin ketat.
Rekomendasi tersebut merupakan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XXV HKI yang berlangsung di Jakarta pada 30–31 Juli 2026. Berbagai masukan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi solusi konkret dalam mengatasi hambatan investasi yang selama ini masih dihadapi pelaku usaha.
Ketua Umum HKI Akhmad Ma'ruf Maulana menegaskan bahwa tantangan investasi Indonesia saat ini bukan lagi sekadar menarik minat investor baru. Yang jauh lebih penting adalah memastikan komitmen investasi yang sudah masuk dapat segera direalisasikan menjadi proyek nyata yang memberikan manfaat bagi perekonomian.
"Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi salah satu tujuan investasi paling kompetitif di Asia. Kita memiliki pasar domestik yang besar, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, serta posisi strategis dalam rantai pasok global," ujar Ma'ruf dalam keterangannya di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, agar potensi tersebut benar-benar terwujud, diperlukan pembenahan menyeluruh pada berbagai aspek yang selama ini menjadi kendala investasi.
HKI mengusulkan sejumlah langkah prioritas, mulai dari harmonisasi regulasi, percepatan proses perizinan, kepastian tata ruang dan pertanahan, peningkatan keandalan pasokan energi, penguatan konektivitas infrastruktur, hingga pembentukan mekanisme penyelesaian hambatan investasi yang lebih efektif.
"HKI ingin menjadi mitra strategis pemerintah dalam memastikan investasi yang sudah masuk benar-benar terealisasi dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat," katanya.
Ma'ruf menilai rekomendasi tersebut sejalan dengan semangat Indonesia Incorporated, yaitu kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia juga menjelaskan bahwa anggota HKI kini tidak hanya berperan sebagai pengembang kawasan industri, tetapi telah berkembang menjadi pelaku industri yang membangun sekaligus mengoperasikan berbagai kegiatan usaha di kawasan yang mereka kelola.
Karena itu, percepatan investasi harus dibarengi dengan pembangunan yang berkelanjutan, termasuk penguatan tata kelola lingkungan hidup, penyediaan energi yang andal, pembangunan konektivitas, serta pengembangan kawasan industri yang ramah lingkungan.
Sebagai tindak lanjut Rakernas, HKI telah menyampaikan surat kepada Presiden untuk memperoleh kesempatan memaparkan secara langsung berbagai rekomendasi strategis yang telah disusun.
Kawasan Industri Jadi Motor Pemerataan Ekonomi
Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa kawasan industri memiliki peran penting sebagai instrumen pemerataan pembangunan nasional.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kemenperin Tri Supondy mengatakan kawasan industri tidak hanya berfungsi menarik investasi, tetapi juga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, membuka lapangan kerja, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi daerah.
"Tujuannya bukan sekadar memindahkan industri ke luar Jawa, tetapi juga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di Indonesia," ujar Tri saat memberikan pembekalan kepada Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Jakarta dikutip Antara.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan industri di Pulau Jawa akan lebih diarahkan pada sektor berteknologi tinggi dan hemat air, mengingat tingginya kepadatan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Adapun pengembangan kawasan industri di luar Pulau Jawa difokuskan pada industri berbasis pengolahan sumber daya alam dan industri padat karya. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas daerah sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
Dengan sinergi antara pemerintah dan pelaku kawasan industri, percepatan investasi diharapkan tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat daya saing Indonesia sebagai destinasi investasi utama di kawasan Asia.