Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik (tengah) menyampaikan paparan dalam Konferensi Pers Peringatan 49 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/8/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah kondisi pasar yang penuh tekanan, kabar menggembirakan datang dari pasar modal Indonesia. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat lonjakan luar biasa jumlah investor sepanjang 2026.
Dalam waktu hanya 7,5 bulan, jumlah investor pasar modal bertambah sekitar 9,9 juta orang. Angka ini bukan hanya besar—tapi juga menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa pencapaian ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap investasi, meski kondisi pasar tidak selalu stabil.
Per 7 Agustus 2026, total investor pasar modal Indonesia telah mencapai sekitar 30,27 juta, naik signifikan dari sekitar 20,34 juta pada 2025. Angka ini mencakup seluruh instrumen investasi, mulai dari saham, obligasi, hingga reksa dana.
Pasar Tertekan, Minat Investor Tetap Tumbuh
Menariknya, pertumbuhan jumlah investor ini terjadi saat pasar saham sedang mengalami tekanan. Sepanjang tahun berjalan (year-to-date), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi hingga 25,87 persen.
Meski begitu, aktivitas perdagangan tetap cukup solid. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham mencapai Rp22,3 triliun, dengan total 962 perusahaan tercatat di BEI. Sepanjang 2026 hingga awal Agustus, juga sudah ada 7 perusahaan yang melantai di bursa melalui IPO.
Artinya, meskipun harga saham mengalami koreksi, minat masyarakat untuk masuk ke pasar modal tidak surut.
Investor Muda Jadi Motor Pertumbuhan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa sebagian besar investor baru berasal dari generasi muda yang baru mulai berinvestasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyebut bahwa mayoritas penambahan Single Investor Identification (SID) didominasi oleh investor pemula usia muda.
Fenomena ini menjelaskan mengapa lonjakan jumlah investor belum sepenuhnya diikuti peningkatan nilai aset secara signifikan. Sebab, investor muda umumnya memulai dengan modal yang relatif kecil.
Namun dalam jangka panjang, kelompok ini berpotensi menjadi tulang punggung pasar modal seiring meningkatnya kemampuan finansial mereka.
Penurunan Aset Dipicu Koreksi Pasar
OJK juga menjelaskan bahwa penurunan nilai aset yang tercatat di pasar modal tahun ini bukan disebabkan oleh kurangnya investor, melainkan lebih karena penurunan kapitalisasi pasar akibat koreksi harga saham.
Dengan kata lain, pertumbuhan jumlah investor belum sepenuhnya mampu menutup penurunan nilai pasar secara keseluruhan.
Tantangan Berikutnya: Investor Institusi & Literasi Keuangan
Ke depan, OJK menilai bahwa selain memperbesar jumlah investor ritel, peningkatan partisipasi investor institusi domestik juga menjadi kunci memperkuat pasar modal.
Investor seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun dinilai memiliki karakter investasi jangka panjang yang cocok dengan instrumen pasar modal seperti obligasi, sukuk, dan saham.
Di sisi lain, pertumbuhan investor muda juga harus dibarengi dengan literasi keuangan yang kuat. OJK menegaskan pentingnya edukasi agar masyarakat tidak terjebak investasi ilegal.
Program literasi dan inklusi keuangan pun akan terus diperluas ke berbagai daerah di Indonesia.
Target 2030: Lebih dari 35 Juta Investor
BEI menargetkan jumlah investor pasar modal Indonesia bisa menembus lebih dari 35 juta pada 2030. Target ini menjadi bagian dari upaya menjadikan Indonesia sebagai pasar modal berkelas dunia.
Dengan tren pertumbuhan saat ini, optimisme tersebut bukan hal yang mustahil.