Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya saat Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/bay/wsj/pri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kabar positif mengenai kinerja perekonomian Indonesia. Pada semester I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,45 persen secara tahunan (year on year/yoy). Menurut Presiden, angka tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi semester I tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Prabowo menyampaikan capaian tersebut saat memberikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
“Ekonomi kita pada semester pertama tahun ini tumbuh tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Inflasi masih tetap terkendali. Permintaan domestik tetap kuat,” kata Prabowo.
Baca juga:
LPEM FEB UI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II 2026 Hanya 4,8 Persen, Ini PenyebabnyaEkonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya ditopang oleh satu sektor. Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 11,83 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah menjadi yang tumbuh paling tinggi dengan capaian 18,62 persen.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih menjadi salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional.
Ekonomi Tumbuh di Tengah Tekanan Global
Prabowo menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup penting karena terjadi ketika perekonomian global masih menghadapi berbagai tekanan.
Kenaikan harga energi akibat konflik dan perang, suku bunga global yang masih tinggi, tekanan terhadap nilai tukar sejumlah negara, hingga ketegangan geopolitik menjadi tantangan yang dapat memengaruhi perdagangan dunia.
Dalam situasi tersebut, pemerintah berupaya menjaga agar aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak dan daya beli masyarakat tidak mengalami tekanan berlebihan.
“Inflasi masih tetap terkendali. Permintaan domestik tetap kuat,” ujar Prabowo.
Pendapatan Negara hingga Juli 2026 Tumbuh 21,3 Persen
Selain pertumbuhan ekonomi, Presiden juga menyoroti perkembangan realisasi APBN 2026.
Hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tumbuh 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, belanja negara tumbuh 18,2 persen.
Menurut Prabowo, peningkatan belanja tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat pelayanan publik, sekaligus memberikan dorongan terhadap aktivitas perekonomian nasional.
Dengan kata lain, APBN tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembiayaan pemerintah, tetapi juga menjadi salah satu alat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ketika kondisi global masih penuh ketidakpastian.
Defisit APBN Tetap Dijaga
Meski belanja negara meningkat, pemerintah tetap berupaya menjaga disiplin fiskal.
Prabowo menyampaikan bahwa hingga akhir Juli 2026, defisit APBN berada di level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Presiden, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan untuk memperkuat ekonomi dan membantu masyarakat tetap dapat berjalan bersamaan dengan kehati-hatian dalam mengelola keuangan negara.
“Ini adalah bukti bahwa keberpihakan kepada rakyat dapat berjalan bersama disiplin fiskal,” ucap Prabowo.
Prabowo menegaskan pemerintah tidak ingin mempertentangkan agenda pertumbuhan ekonomi dengan disiplin fiskal. Keduanya, menurut dia, harus dijalankan secara bersamaan.
“Kita memilih keduanya. Kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN. Kita melakukan keduanya,” ujar Prabowo dikutip Antara.
Tantangan Berikutnya Menjaga Momentum Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen pada semester I 2026 menjadi modal penting bagi pemerintah memasuki paruh kedua tahun ini.
Namun, tantangan ekonomi global masih perlu diantisipasi. Tekanan harga energi, dinamika suku bunga global, nilai tukar, serta ketegangan geopolitik dapat memengaruhi perekonomian Indonesia ke depan.
Karena itu, menjaga konsumsi domestik, memperkuat sektor produktif, serta memastikan belanja pemerintah memberikan dampak ekonomi yang luas akan menjadi bagian penting dalam mempertahankan momentum pertumbuhan.
Capaian semester I 2026 sekaligus menjadi salah satu pijakan pemerintah dalam menyusun arah kebijakan ekonomi dan fiskal melalui RAPBN 2027.