Kamis, 01 Oktober 2026

Inalum Perkenalkan Green Aluminium, Andalkan Energi Air untuk Tekan Jejak Karbon


 Inalum Perkenalkan Green Aluminium, Andalkan Energi Air untuk Tekan Jejak Karbon Green aluminium produksi PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum. (ANTARA/HO-INALUM)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Perubahan arah industri global menuju produk yang lebih rendah emisi mulai membuka peluang baru bagi industri aluminium Indonesia. Melihat tren tersebut, PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum memperkenalkan produk Green Aluminium melalui Sertifikasi Low Carbon Aluminium.

Langkah ini tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi jejak karbon dalam proses produksi, tetapi juga menjadi strategi Inalum untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas akses produknya ke pasar internasional.

Direktur Pengembangan Usaha dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengatakan kebutuhan terhadap aluminium dengan jejak karbon lebih rendah semakin mendapat perhatian di pasar global.

Menurut dia, Inalum memiliki modal penting untuk masuk ke segmen tersebut karena proses peleburan aluminium perusahaan didukung oleh energi listrik berbasis tenaga air.

“Pasar global semakin memberikan perhatian terhadap produk aluminium dengan jejak karbon yang lebih rendah,” ujar Arif dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Ia menjelaskan, penggunaan energi berbasis tenaga air menjadi salah satu keunggulan yang ingin diterjemahkan Inalum menjadi nilai ekonomi dan daya saing produk.

Dengan pendekatan tersebut, aluminium yang diproduksi di Indonesia diharapkan memiliki posisi yang lebih kuat ketika bersaing di pasar yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Pasar Aluminium Mulai Bergeser

Pengembangan aluminium rendah karbon terjadi di tengah perubahan lanskap industri aluminium dunia. Dalam agenda Fastmarkets International Aluminium 2026 di Budapest, isu low-carbon aluminium, keamanan pasokan, biaya energi, perdagangan dan kebijakan karbon seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi sejumlah tema penting yang dibahas pelaku industri.

Fastmarkets juga mencatat bahwa permintaan terhadap aluminium rendah karbon menjadi salah satu perhatian pasar, termasuk di Eropa. Dalam pemantauan Fastmarkets pada September 2026, aluminium rendah karbon bahkan memiliki diferensial harga tersendiri di pasar Eropa.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek emisi mulai menjadi bagian dari pertimbangan komersial dalam rantai pasok aluminium global, bukan semata-mata persoalan lingkungan.

Bagi Indonesia, perkembangan ini sekaligus membuka ruang bagi produsen yang memiliki akses terhadap sumber energi dengan intensitas karbon lebih rendah.

Keunggulan Energi Air

Inalum sendiri mengoperasikan fasilitas peleburan aluminium yang terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga air. Di fasilitas peleburan Kuala Tanjung, proses reduksi alumina menjadi aluminium cair dilakukan melalui elektrolisis dengan memanfaatkan listrik dari pembangkit listrik tenaga air. Kapasitas maksimum Reduction Plant tersebut mencapai 275 ribu ton per tahun dari 510 unit tungku peleburan.

Basis energi tersebut menjadi salah satu fondasi pengembangan produk aluminium rendah karbon Inalum.

Perusahaan juga telah menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2015 yang mencakup kegiatan peleburan, pencetakan aluminium serta pembangkit listrik tenaga air.

Dalam konteks yang lebih luas, Inalum sebelumnya juga mendapatkan pengakuan atas kinerja lingkungan. Pada 2025, fasilitas peleburan Inalum memperoleh PROPER Emas, sementara fasilitas PLTA memperoleh PROPER Hijau.

Bukan Sekadar Label Hijau

Kepala Grup Komersial dan Manajemen Rantai Pasok Inalum, Jevi Amri, menegaskan bahwa pengembangan Low Carbon Aluminium tidak berhenti pada aspek proses produksi.

Menurutnya, keunggulan rendah karbon perlu diterjemahkan menjadi sesuatu yang relevan dengan kebutuhan pelanggan.

“Bagi kami, low carbon aluminium bukan hanya tentang proses produksi yang lebih rendah emisi, tetapi juga bagaimana keunggulan tersebut dapat menjawab kebutuhan pelanggan dan menciptakan peluang pasar baru,” kata Jevi.

Karena itu, sertifikasi Low Carbon Aluminium diposisikan sebagai bagian dari strategi komersial perusahaan. Produk dengan karakteristik emisi lebih rendah diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen industri yang semakin memperhatikan aspek lingkungan dalam rantai pasok mereka.

Peluang bagi Aluminium Indonesia

Pengembangan Green Aluminium juga berlangsung bersamaan dengan agenda penguatan industri aluminium nasional. Inalum saat ini menjadi bagian dari Grup MIND ID yang tengah mendorong pengembangan rantai nilai aluminium dari bauksit hingga aluminium.

Pada Februari 2026, Inalum memulai pengembangan fasilitas terintegrasi bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai bagian dari penguatan hilirisasi aluminium nasional.

Dengan kombinasi hilirisasi, pengembangan kapasitas dan pemanfaatan energi berbasis tenaga air, pengembangan aluminium rendah karbon dapat menjadi salah satu elemen dalam strategi jangka panjang perusahaan.

Di sisi pasar, kebutuhan terhadap aluminium rendah karbon diperkirakan tetap menjadi salah satu isu penting dalam perdagangan aluminium global. Fastmarkets mencatat bahwa industri aluminium juga menghadapi perubahan kebijakan perdagangan dan regulasi karbon, termasuk CBAM di Uni Eropa.

Bagi Inalum, kondisi tersebut membuat pengembangan Green Aluminium tidak hanya berkaitan dengan citra keberlanjutan. Produk rendah karbon juga diarahkan menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat daya saing, membuka akses pasar baru dan meningkatkan posisi aluminium Indonesia dalam rantai pasok global.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru