Ilustrasi Surat Utang Negara SUN ANTARA NewsRidwan Triatmodjo
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah menyerap dana sebesar Rp34 triliun melalui lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa, 18 Agustus 2026. Lelang tersebut mendapat respons kuat dari investor dengan total penawaran yang masuk mencapai Rp84,76 triliun.
Besarnya penawaran menunjukkan minat investor terhadap instrumen Surat Utang Negara masih cukup tinggi. Namun, pemerintah tidak seluruhnya menyerap dana yang ditawarkan investor dalam lelang tersebut.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyatakan, total nominal SUN yang dimenangkan pemerintah ditetapkan sebesar Rp34 triliun.
“Dengan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, Menteri Keuangan menetapkan total nominal yang dimenangkan dari kesembilan seri yang ditawarkan tersebut adalah Rp34 triliun,” tulis DJPPR Kementerian Keuangan dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
SPN Tidak Diserap Pemerintah
Dalam lelang kali ini, pemerintah tidak memenangkan penawaran dari tiga seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang ditawarkan.
Seri SPN01260919 yang merupakan penerbitan baru menerima penawaran sebesar Rp670 miliar. Sementara itu, SPN03261118 mencatat penawaran Rp2,43 triliun dan SPN12270805 yang merupakan pembukaan kembali mendapatkan penawaran sebesar Rp8,63 triliun.
Baca juga:
Pemerintah Serap Rp28 Triliun dari Lelang Surat Utang Negara, Minat Investor Masih TinggiDengan demikian, seluruh dana yang diserap pemerintah dalam lelang kali ini berasal dari seri Fixed Rate (FR).
FR0110 Jadi Seri dengan Penyerapan Terbesar
Seri FR0110 menjadi surat utang dengan nominal yang paling besar dimenangkan pemerintah. Dari penawaran yang masuk sebesar Rp37,65 triliun, pemerintah menyerap dana Rp12,8 triliun.
Seri FR0110 merupakan penerbitan kembali dengan tingkat imbal hasil (yield) rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 7,00788 persen. Surat utang ini memiliki jatuh tempo pada 15 Mei 2032.
Berikutnya, pemerintah menyerap Rp10,3 triliun dari seri FR0108. Seri yang juga merupakan penerbitan kembali tersebut mendapatkan penawaran sebesar Rp16,19 triliun.
Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk FR0108 mencapai 7,10992 persen, dengan tanggal jatuh tempo 15 April 2036.
Penyerapan SUN Jangka Panjang
Pemerintah juga menyerap dana dari sejumlah SUN dengan tenor yang lebih panjang.
Dari seri FR0106, pemerintah memenangkan Rp4,75 triliun dari total penawaran Rp7,87 triliun. Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 7,24000 persen, dengan jatuh tempo 15 Agustus 2040.
Kemudian, seri FR0107 mendapatkan penawaran Rp6,99 triliun. Pemerintah menyerap Rp4,85 triliun dengan yield rata-rata tertimbang sebesar 7,24998 persen. Seri tersebut akan jatuh tempo pada 15 Agustus 2045.
Untuk seri FR0102, pemerintah memenangkan Rp850 miliar dari penawaran yang mencapai Rp2,4 triliun. Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 7,29987 persen, sedangkan jatuh temponya pada 15 Juli 2054.
Sementara itu, seri dengan tenor paling panjang dalam lelang ini adalah FR0105. Pemerintah menyerap Rp450 miliar dari penawaran sebesar Rp1,93 triliun.Seri FR0105 memiliki yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 7,29746 persen dan akan jatuh tempo pada 15 Juli 2064.
Total Penawaran Capai Rp84,76 Triliun
Jika dirangkum, lelang SUN pada 18 Agustus 2026 menunjukkan adanya perbedaan cukup besar antara total permintaan investor dan dana yang diserap pemerintah.
Dari total penawaran Rp84,76 triliun, pemerintah hanya memenangkan Rp34 triliun. Penyerapan tersebut berasal dari enam seri Fixed Rate, sementara tiga seri SPN tidak dimenangkan.
Tingginya penawaran investor menunjukkan bahwa SUN masih menjadi salah satu instrumen yang menarik di pasar keuangan. Bagi pemerintah, lelang SUN juga menjadi instrumen penting untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan melalui pasar domestik.