Ilustrasi: Rupiah melemah. (Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Rupiah merosot di awal pekan perdagangan ini karena Dolar semakin stabil dan ketegangan perdagangan global mengganggu ketertarikan investor pada mata uang ini.
Kekhawatiran yang semakin besar mengenai arus keluar modal yang memengaruhi ekonomi Indonesia dapat semakin memperburuk keadaan Rupiah. Juni adalah bulan trading yang sangat sulit bagi mata uang pasar berkembang.
Apabila situasi negatif ini berlanjut di bulan Juli maka menurut Hussein Sayed, Chief Market Strategist FXTM, mata uang pasar berkembang dapat semakin terpukul, termasuk Rupiah. USDIDR saat ini berada di kisaran 14375. Penurunan dapat berlanjut mendekati 14500 apabila Dolar terus menguat.
Perang perdagangan memanas, resesi dikhawatirkan terjadi.
Enam bulan pertama tahun 2018 sungguh menarik. Fundamental ekonomi dan politik menjadi sorotan utama dan sangat memengaruhi pasar. Federal Reserve melakukan pengetatan karena pertumbuhan dan inflasi terus meningkat. Perang perdagangan antara AS dan seluruh negara lainnya terutama Tiongkok dan Uni Eropa semakin memanas.
Selain itu, pemerintahan AS memberi stimulus besar untuk ekonomi yang sudah mendekati full employment sehingga Dolar AS semakin menguat.
Pertumbuhan ekonomi AS yang kuat menurut Husein walaupun seluruh bagian dunia lainnya melemah memberi dukungan untuk pasar ekuitas. Walau begitu, ketidakpastian geopolitik dan proteksionisme menjadi risiko negatif terbesar. Sepertinya kita berada dalam tahap akhir siklus ekonomi saat ini, tapi belum ada isyarat terjadinya resesi.
Dalam keadaan ekonomi seperti ini, investor saham harus lebih berhati-hati. Kita memerlukan metode yang lebih selektif karena valuasi akan semakin menantang dalam beberapa bulan mendatang karena volatilitas meningkat.
Inflasi kata Husein akan menjadi faktor utama yang menggerakkan kebijakan moneter pada tengah tahun kedua 2018 sehingga investor harus memperhatikan harga minyak. Keputusan OPEC dan para anggota non-OPEC untuk meningkatkan pasokan minyak mentah sekitar satu juta barel mulai 1 Juli dianggap sebagai faktor negatif untuk harga minyak.
Walau demikian, peningkatan pasokan dari sebagian anggota OPEC dan non-OPEC akan diimbangi oleh penurunan pasokan sebagian negara lainnya. Hasil akhirnya sulit diterka oleh para investor.
Husein menjelaskan ekspor minyak Iran saat ini kembali dikenai sanksi oleh AS setelah Trump membatalkan kesepakatan nuklir. Venezuela juga dalam pantauan investor karena ada isyarat lebih lanjut bahwa industri minyak memasuki fase baru yang berbahaya. Pasokan minyak dari Libya juga terpapar risiko negatif dari kekacauan politik saat ini.
Ketiga negara ini dapat menyumbang penurunan pasokan hingga dua juta barel per hari pada akhir 2018, sehingga harga minyak mungkin akan tetap tinggi pada tengah tahun kedua 2018.
Investor dan trader kata Husein juga harus terus memantau imbal hasil obligasi Treasury AS. Selisih antara imbal hasil obligasi jangka pendek dan jangka panjang AS menyempit ke level paling rendah sejak 2007, dan semakin kita mendekati inversi kurva imbal hasil, peluang terjadinya resesi semakin besar.