Loading
Prof. Din Syamsuddin dan Tan Sri Lee Kim Yew bersalaman seusai penandatanganan kerja sama CDCC–Cheng Hoo Trust dalam rangkaian World Peace Forum 2025 di Jakarta. (Foto: minanews.net)
GLOBAL HARMONY | INTER FIDEI
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Dua tokoh lintas bangsa dan budaya, Prof. M. Din Syamsuddin dan Tan Sri Lee Kim Yew, tampil dalam satu panggung di World Peace Forum (WPF) ke-9 di Jakarta. Mereka sepakat bahwa dunia perlu kembali pada jalan tengah—sebuah titik keseimbangan antara nilai Wasathiyat Islam dan filosofi Tionghoa yang menekankan harmoni dan kemakmuran bersama.
Dalam forum yang digelar oleh Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) bersama Cheng Hoo Multicultural Education Trust Malaysia, Global Forum of Wasathiyat Islam, dan Muhammadiyah, Din Syamsuddin membuka acara dengan seruan moral yang menggugah.
Baca juga:
World Peace Forum 2025: Jusuf Kalla dan Din Syamsuddin Serukan Spirit Damai dari Jakarta untuk Dunia“Dunia saat ini sedang terjebak dalam ekstremitas—baik sekularisme maupun liberalisme—yang membuat manusia kehilangan arah. Karena itu, konsep jalan tengah dari Islam dan agama-agama lain adalah solusi bagi kemanusiaan,” ujar Prof. Din Syamsuddin di Galeri Nasional, Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Jalan Tengah, Titik Temu Peradaban
Baca juga:
World Peace Forum 2025: Jusuf Kalla dan Din Syamsuddin Serukan Spirit Damai dari Jakarta untuk DuniaDin menilai, keseimbangan bukan hanya prinsip teologis, tetapi juga fondasi sosial untuk membangun peradaban yang damai. Ia menyebut Tan Sri Lee Kim Yew sebagai “saudara tua” sekaligus mitra perjuangan lintas budaya yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai harmoni.
“Beliau adalah sosok yang punya gagasan besar dan aksi nyata dalam mempromosikan perdamaian lintas bangsa,” kata Din.
Baca juga:
Liga Muslim Dunia Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Perdamaian dan Dialog Antaragama GlobalMenanggapi hal itu, Tan Sri Lee Kim Yew, pendiri Cheng Hoo Multicultural Education Trust, menegaskan bahwa inisiatif yang dibangunnya sejak dua dekade lalu terinspirasi oleh perjuangan Prof. Din dalam mewujudkan perdamaian dunia.
“Kita harus menempatkan perdamaian di atas kepentingan ekonomi. Tanpa perdamaian, kemakmuran tidak akan pernah berkelanjutan,” ungkap Lee dilansir dari Mi’raj News Agency (MINA)
Filosofi Tionghoa dan Nilai Wasathiyat Islam
Lee juga menjelaskan makna filosofis di balik kata “Tionghoa” yang ternyata memiliki kedalaman makna yang selaras dengan Islam.
“Kata ‘Tiong’ berarti jalan tengah, dan ‘Hua’ berarti kemakmuran. Ini sejalan dengan ajaran Wasathiyat Islam tentang keseimbangan dan keadilan,” ujarnya.
Forum perdamaian dunia yang ke-9 ini mengusung tema “Considering Wasathiyat Islam and Tionghoa for Global Collaboration”, yang menegaskan pentingnya kolaborasi nilai-nilai Islam dan Tionghoa untuk membangun dunia yang lebih damai, adil, dan berkeadaban.
Dari Timur untuk Dunia
Melalui pertemuan ini, pesan damai dari Timur kembali menggema: bahwa harmoni bukan hanya cita-cita, melainkan arah bersama untuk masa depan umat manusia.
Dalam semangat Global Harmony, forum ini mengajak setiap bangsa dan agama untuk kembali pada nilai keseimbangan—sebuah titik temu universal yang menjadi sumber kekuatan bagi dunia yang lebih beradab.