Loading
Alpukat (pixabay) (/)
Berdasarkan laporan Eating Well pada Selasa (30/6/2026), penelitian tersebut menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi satu alpukat besar setiap hari selama enam bulan mengalami penurunan beban glikemik diet hampir 14 poin dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alpukat secara rutin.
Temuan ini berasal dari analisis lanjutan Habitual Diet and Avocado Trial yang melibatkan 1.008 orang dewasa dengan lingkar pinggang besar. Dalam penelitian tersebut, kelompok yang mengonsumsi satu alpukat berukuran sekitar 168 gram per hari tidak melakukan perubahan signifikan pada pola makan maupun aktivitas fisik.
Hasilnya, kelompok tersebut memiliki beban glikemik rata-rata 13,7 poin lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol yang hanya mengonsumsi alpukat maksimal dua buah per bulan.
Beban glikemik sendiri merupakan ukuran yang menggambarkan kualitas serta jumlah karbohidrat dalam makanan dan bagaimana pengaruhnya terhadap kenaikan gula darah. Semakin rendah beban glikemik, semakin stabil pula respons gula darah tubuh setelah makan.
Pola makan dengan beban glikemik rendah telah lama dikaitkan dengan pengelolaan gula darah yang lebih baik serta penurunan risiko penyakit metabolik dan kronis.
Studi ini juga menemukan bahwa kelompok yang rutin mengonsumsi alpukat cenderung memiliki asupan serat dan lemak tak jenuh yang lebih tinggi, serta konsumsi protein hewani dan karbohidrat yang lebih rendah.
Kandungan serat dalam alpukat dinilai berperan penting karena dapat memperlambat proses pencernaan dan penyerapan karbohidrat, sehingga membantu menstabilkan kadar gula darah setelah makan.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Karena merupakan analisis sekunder dari penelitian yang lebih besar, hasilnya masih perlu dikonfirmasi melalui riset lanjutan.
Selain itu, seluruh peserta penelitian diketahui memiliki obesitas sentral pada awal studi, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi pada populasi dengan kondisi tubuh yang berbeda.
Penelitian ini juga didanai oleh Avocado Nutrition Center, yang merupakan organisasi berbasis industri alpukat, sehingga potensi bias tetap perlu diperhatikan.
Meski begitu, para peneliti menilai temuan ini tetap memberikan wawasan penting terkait peran alpukat dalam pola makan sehat.
Dengan kombinasi serat, lemak sehat, dan senyawa bioaktif, alpukat dinilai sebagai tambahan yang baik dalam diet seimbang. Dalam konsumsi harian, alpukat dapat diolah menjadi tambahan roti, salad, hingga minuman.
Namun, karena satu alpukat mengandung sekitar 320 kalori, konsumsinya disarankan tetap memperhitungkan kebutuhan energi harian, misalnya dengan menjadikannya pengganti sumber lemak lain, bukan tambahan berlebihan.