Studi Ungkap Gen Z Makin Gandrung Konten Nostalgia, Musik Lawas Kembali Jadi Favorit. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Musik lawas dan konten bernuansa masa lalu ternyata bukan hanya digemari generasi yang pernah mengalaminya. Justru Generasi Z menjadi kelompok yang paling kuat dipengaruhi nostalgia ketika memilih musik maupun tayangan untuk dinikmati. Fenomena ini menunjukkan bahwa nostalgia kini tidak lagi berkaitan dengan usia, melainkan dengan pengalaman emosional yang dibangun melalui budaya populer dan platform digital.
Temuan tersebut terungkap dalam studi "Then is Now: A Study on Modern Nostalgia" yang melibatkan 1.800 responden dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Penelitian ini membandingkan pandangan tiga kelompok generasi, yaitu Gen X, Milenial, dan Gen Z.
Studi tersebut dilakukan atas permintaan Vevo, layanan streaming video musik milik Sony Music dan Universal Music Group yang dikenal memiliki katalog lagu dari era 1980-an, 1990-an hingga 2000-an.
Rob Christensen, Executive Vice President of Global Sales Vevo, mengatakan bahwa konten bernuansa nostalgia memiliki daya tarik yang sangat besar bagi penonton masa kini.
Menurutnya, kemunculan film dan serial baru justru menjadi pintu masuk bagi audiens untuk kembali menemukan lagu-lagu lama yang sempat populer.
Fenomena itu terlihat ketika serial seperti Stranger Things atau Love Story: John F. Kennedy and Carolyn Bessette dirilis. Lagu-lagu klasik yang digunakan dalam tayangan tersebut mengalami lonjakan jumlah penayangan di Vevo.
Tak sedikit penonton yang awalnya datang karena satu lagu nostalgia, kemudian terdorong menjelajahi lebih banyak musik dan konten serupa.
Gen Z dan Fenomena "Borrowed Nostalgia"
Salah satu temuan paling menarik dalam studi ini adalah munculnya fenomena "borrowed nostalgia" atau nostalgia pinjaman.
Istilah tersebut menggambarkan rasa rindu terhadap suasana, budaya, atau era yang sebenarnya belum pernah dialami secara langsung. Meski tidak hidup pada masa itu, Gen Z mampu membangun kedekatan emosional dengan musik, film, maupun budaya pop dari dekade sebelumnya.
Hasil survei menunjukkan 64 persen responden Gen Z mengaku nostalgia sangat memengaruhi pilihan konten yang mereka konsumsi. Bahkan, 88 persen menyatakan unsur nostalgia membuat pengalaman menikmati konten menjadi lebih emosional.
Era Streaming Menghapus Batas Antargenerasi
Laporan tersebut juga mencatat bahwa siklus nostalgia budaya pop kini bergerak jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Jika dahulu tren nostalgia biasanya muncul setiap 20 hingga 25 tahun, kini perputarannya semakin singkat. Perubahan ini dipicu oleh Gen Z dan Milenial muda yang sejak kecil telah tumbuh bersama internet dan layanan streaming.
Dalam penelitian ini, Gen X didefinisikan sebagai kelompok usia 46–61 tahun, Milenial 30–45 tahun, sedangkan Gen Z berusia 14–29 tahun.
Para peneliti menilai kemudahan mengakses berbagai katalog musik, film, dan serial melalui platform streaming membuat batas antargenerasi semakin kabur.
Audiens muda kini dapat menikmati karya-karya klasik hanya dengan beberapa klik. Kemudahan tersebut membangun ikatan emosional baru terhadap momen budaya populer yang bahkan lahir jauh sebelum mereka dilahirkan.
Laporan studi menyimpulkan bahwa generasi digital justru merindukan pengalaman bersama yang dulu hadir ketika hiburan belum dapat dinikmati secara instan sesuai permintaan. Fenomena inilah yang membuat nostalgia terus menjadi kekuatan penting dalam industri musik dan hiburan global.