Ketegangan Jepang–China Memanas, Tokyo Kirim Surat Resmi ke PBB soal Taiwan


 Ketegangan Jepang–China Memanas, Tokyo Kirim Surat Resmi ke PBB soal Taiwan Photo file: Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di sela-sela Pertemuan Pemimpin Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) ke-32 di Gyeongju, Korea Selatan, Jumat (31/10/2025). ANTARA/Xinhua/Ding Lin/aa.

TOKYO, ARAHKITA.COM — Hubungan Jepang dan China kembali menghangat setelah Tokyo mengirim surat resmi ke Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Surat itu dikirim oleh Duta Besar Jepang untuk PBB, Kazuyuki Yamazaki, pada Senin (24/11/2025) sebagai tanggapan atas keberatan yang sebelumnya dilayangkan Beijing terkait pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengenai situasi di Taiwan.

Dalam surat tersebut, Yamazaki menegaskan bahwa kebijakan pertahanan Jepang bersifat murni defensif, termasuk ketika berbicara mengenai potensi kontinjensi Taiwan. Ia membantah klaim China yang menuding Jepang berniat menggunakan hak bela diri tanpa adanya ancaman serangan bersenjata.

Yamazaki juga menekankan bahwa posisi Tokyo terhadap Taiwan tetap konsisten sejak Komunike Bersama Jepang–China 1972, momentum penting ketika kedua negara menormalisasi hubungan diplomatik. Jepang, kata dia, selalu mendorong penyelesaian isu Taiwan lewat jalur damai dan dialog, bukan konfrontasi.

Dalam surat yang sama, Yamazaki menyinggung langkah China yang membekukan sejumlah aktivitas ekonomi dan hubungan antarmasyarakat, termasuk perdagangan produk perikanan. Pemerintah Jepang menyatakan tetap berkomitmen meredakan ketegangan melalui komunikasi yang stabil dan tenang.

Polemik ini mencuat setelah Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, lebih dulu menulis surat kepada Guterres. Beijing menilai bahwa pernyataan PM Takaichi pada sesi parlemen 7 November lalu menunjukkan “niat Jepang untuk melakukan intervensi militer pertama kali di Taiwan,” sebagaimana diberitakan Xinhua.

Pernyataan Takaichi yang menyebut bahwa serangan ke Taiwan dapat menciptakan “situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang” juga memicu interpretasi bahwa pemerintah dapat membuka ruang bagi Pasukan Bela Diri Jepang untuk mendukung Amerika Serikat jika China memblokade Taiwan atau meningkatkan tekanan militer lainnya.

Menanggapi memanasnya situasi, Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menegaskan pentingnya dialog untuk meredakan tensi antara dua negara Asia Timur tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa PBB akan menjalankan prosedurnya dengan mendistribusikan surat Fu Cong kepada seluruh negara anggota untuk transparansi dikutip Antara.

Ketegangan diplomatik Jepang–China kini menjadi sorotan global, terutama karena isu Taiwan terus menjadi titik sensitif dalam dinamika keamanan kawasan Asia-Pasifik.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru