Senin, 05 Januari 2026

Awali 2026, Takaichi dan Trump Tegaskan Kembali Aliansi Strategis Jepang–AS


 Awali 2026, Takaichi dan Trump Tegaskan Kembali Aliansi Strategis Jepang–AS Sanae Takaichi akhirnya memimpin Partai Demokrat Liberal Jepang dan berpeluang menjadi perdana menteri perempuan pertama. (Getty Images/bbc.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membuka awal tahun 2026 dengan menegaskan kembali pentingnya aliansi strategis Jepang–Amerika Serikat. Hal ini disampaikan usai percakapan telepon Tahun Baru dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada malam 2 Januari 2026.

Mengutip The Asahi Shimbun, Takaichi menyatakan bahwa kedua pemimpin sepakat menjadikan tahun ini sebagai momentum membuka babak baru dalam sejarah hubungan bilateral Jepang–AS, baik di bidang ekonomi maupun keamanan.

“Kami ingin menjadikan tahun ini sebagai awal penguatan persahabatan dan kerja sama luas antara Jepang dan Amerika Serikat,” ujar Takaichi kepada wartawan di

Kediaman Resmi Perdana Menteri Jepang.

Menurutnya, menegaskan kembali soliditas aliansi sejak awal tahun menjadi langkah penting di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang. Pemerintah Jepang juga mengungkapkan bahwa permintaan untuk menggelar percakapan telepon pada 2 Januari datang langsung dari pihak Amerika Serikat, meskipun awalnya panggilan Tahun Baru masih dalam tahap pengaturan.

Dalam pembicaraan yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut, Takaichi dan Trump turut membahas rencana kunjungan resmi Perdana Menteri Jepang ke Amerika Serikat. Kunjungan ini dipertimbangkan berlangsung paling cepat pada Maret 2026 dan akan menjadi lawatan pertama Takaichi sejak menjabat pada Oktober lalu.

“Presiden Trump kembali mengundang saya ke Amerika Serikat. Kami sepakat untuk mulai menyusun langkah konkret menuju kunjungan tersebut pada musim semi,” kata Takaichi.

Pertemuan tingkat tinggi Jepang–AS dinilai strategis, terutama menjelang rencana kunjungan Trump ke China pada April mendatang untuk bertemu Presiden Xi Jinping. KTT ini diharapkan mempertegas solidaritas kedua negara di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Hubungan Jepang dan China sendiri masih berada dalam kondisi sensitif. Beijing sebelumnya meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Tokyo setelah pernyataan Takaichi mengenai kemungkinan respons militer Jepang jika terjadi situasi darurat di Taiwan.

Pada akhir Desember, China juga menggelar latihan militer di sekitar Taiwan. Pemerintah Jepang menyampaikan keprihatinan resminya, menilai langkah tersebut berpotensi meningkatkan eskalasi di kawasan Selat Taiwan.

Usai percakapan telepon Tahun Baru, Takaichi menegaskan bahwa Jepang dan Amerika Serikat sepakat menjaga koordinasi erat dalam menghadapi tantangan internasional, dengan perhatian khusus pada stabilitas dan keamanan kawasan Indo-Pasifik. Meski demikian, detail teknis pembahasan kedua pemimpin tidak diungkapkan ke publik.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru